Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Minggu, 21 Desember 2008

PERENUNGAN AKHIR TAHUN


Oleh : Mtt Qeen

“Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab, dan timbanglah sebelum kamu ditimbang, karena menghisab diri pada hari ini lebih ringan bagimu daripada dihisab di hari kiamat kelak. Dan bersiap-siaplah untuk menghadapi kejadian yang paling besar, karena pada hari itu kamu akan dihadapkan kepada tuhanmu dengan tiada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi.” (HR. Ahmad)

Hadits di atas adalah merupakan salah satu dari sekian banyak terapi menyehatkan rohani yang ditawarkan oleh Islam. Dan salah satunya adalah dengan menghisab diri.

Di dalam Islam dikenal dengan muhasabah yang berarti menghitung atau sering dikenal dengan sebutan hisab. Yang dimaksud menghitung di sini bukan berarti menghitung bentuk angka-angka atau jumlah, melainkan lebih kepada menghitung masa hidup dan penggunaannya, juga mengingat perjalanan hidup yang telah lalu, guna mengetahui kekurangan-kekuarangan dan kealpaan yang telah kita perbuat, agar bisa diperbaiki di masa yang akan datang.

Arus global yang melaju demikian cepat telah membuat manusia sibuk dengan urusan dunia, mereka bekerja keras membanting tulang, tidak jarang kebanyakan dari mereka mengambil jalan yang menyimpang dari koridor Islam, yang pada akhirnya berbuah dosa yang berkepanjangan hingga menggunung tinggi. Ketika dosa sudah menggunung, jiwa-jiwa mereka pun akan mengalami berbagai tekanan sehingga menimbulkan banyak permasalahan dan penyakit hati, baik itu soal keluarga, anak, istri, tetangga, hingga permasalahan kantor yang menyebabkan kehidupan mereka menjadi berantakan dan tidak karuan.

Lalu pernahkah kita mencoba melakukan perenungan dengan menghisab diri? Menghitung dosa yang kita lakukan dalam satu hari, satu minggu, satu bulan, atau bahkan satu tahun? Andai saja kita bersedia menyediakan sebuah kotak kosong, lalu kita masukkan semua dosa-dosa yang kita lakukan ke dalamnya, kira-kira apa yang terjadi? Kuat dugaan bahwa kotak tersebut sudah tak berbentuk kotak lagi, karena tak mampu menampung muatan dosa kita.

Nah, di akhir tahun ini sediakan waktu sejenak untuk merenungkan hal itu! Karena rohani kita butuh kesembuhan, ia sudah terlalu lama berkubang penyakit dari noda dan dosa-dosa yang telah kita lakukan. Tanyakan kepada hati kecil kita segala hal tentang pelanggaran-pelanggaran agama yang telah kita lakukan, mulai dari ibadah shalat yang selalu bolong-bolong, hak anak yatim dan orang miskin yang belum dikeluarkan, sikap dan perilaku kasar kita terhadap orang lain, Bukankah pernah kita terima uang tak jelas statusnya sehingga pendapatan kita berlipat ganda? Bukankah kita tak mau menolong saudara kita yg dalam kesulitan walaupun kita sanggup menolongnya? Daftar ini akan menjadi panjang sekali jika kita terus mengulurnya.

Lalu, apa yang harus kita lakukan?

Allah SWT berfirman dalam Surat Az-Zumar ayat 53, "Katakanlah: "Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Sungguh indah ayat ini, Allah menyapa kita dengan panggilan yang bernada teguran, namun tidak diikuti dengan kalimat yang berbau murka. Justru Allah mengingatkan kita untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah. Allah pun menjanjikan untuk mengampuni dosa-dosa kita.

Karena itu, kosongkanlah lagi kotak yang telah penuh tadi dengan bertaubat kepada Allah. Kita kembalikan kotak itu seperti keadaan semula, kita kembalikan jiwa kita kepada jiwa yang sehat dari noda dosa dan murka Allah.

Wahai Tuhan Yang Kasih Sayang-Nya lebih besar dari murka-Nya, Ampuni kami Ya Allah!

SANTUN KEPADA IBU


Oleh : Mtt Qeen

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula)." (QS. Al-Ahqaf :15)

Ayat di atas menunjukkan betapa beratnya tugas yang diemban oleh seorang ibu, baik itu ketika mengandung dan terlebih lagi saat melahirkan anaknya. Ibu mengandung dan melahirkan anaknya dengan susah payah, bahkan dia mengandung dalam keadaan sangat lemah. “Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah....” (QS. Lukman :14)

Allah SWT demikian tegas mengatur jadwal kerja seorang ibu menjadi sangat padat, tentang bagaimana dan berapa lama seorang ibu mengandung dan melahirkan anaknya. Demikian juga dalam hal berapa lama masa penyusuan dan penyapihan yang harus dilakukan oleh seorang ibu, hingga permasalahan bagaimana seorang ibu jika tidak dapat menyusui anaknya secara sempurna pun dibahas oleh Allah dalam kitab-Nya Al-Qur’an secara sempurna.

Ini jelas membuktikan bahwa demikian besar jasa dan pengorbanan seorang ibu bagi kelangsungan hidup anak-anaknya, hingga posisinya tidak bisa digantikan oleh apapun. Pantas Rasul SAW meletakkan derajat seorang ibu jauh tiga kali lipat dari ayah. Dalam pepatah kita pun juga berkata demikian, ‘kasih ayah sepanjang usia, kasih ibu sepanjang masa’ .

Nah, setelah anaknya tumbuh dewasa, maka tanggung jawab itu akan berbalik 180 derajat menjadi kewajiban anak untuk kembali membalas jasa dan pengorbanan ibunya yang sudah mulai lemah. Cara membalasnya ialah dengan berbuat santun dalam arti seluas-luasnya dan bersyukur kepada Allah SWT.

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. Lukman : 14)

Wujud berbuat baik dan bersyukur kepada ibu-bapak itu antara lain ialah memuliakannya dengan selalu mengucapkan kepada mereka perkataan yang baik-baik. Tidak mencela dan tidak bernada keras, sehingga tidak menyinggung perasaannya. Karena sudah banyak sejarah yang menjelaskan tentang adzab bagi pendurhaka, jika seorang ibu telah mengataka “Celaka kamu....!” terhadap anaknya, maka ia akan celaka. Do’a orang tua adalah doa yang paling mustajab di antara do’a-do’a. Maka muliakanlah dia.

Kemudian kewajiban yang lain ialah menghormati dan menyayanginya. Allah SWT berfirman, ”Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang.....” (Al-Isra’ : 24)

Adapun kewajiban selanjutnya adalah memberi nafkah atau infaq untuk kelangsungan hidup mereka, karena sudah tentu mereka tidak lagi meliliki etos kerja yang kuat seperti dulu. Kulitnya sudah mulai keriput, daya dan kekuatannya pun sudah semakin berkurang. Jadi hanya kepada kita ia bisa meminta perlakuan seperti itu.

Terakhir, sebagai anak yang berbakti kepada kedua orang tua ialah selalu berdo’a untuk keselamatannya. Setiap pagi dan sore, hingga menjelang malam dan sepertiga malam. Sebagaimana yang telah diajarkan Allah dalam sebuah firman- Nya,

"Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya (ibu-bapak), sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil." (QS. Al-Isra’ :24)

Berbahagialah untuk mereka yang selalu santun kepada Ibu, karena disamping membalas jasanya, membahagiakannya, mereka juga dapat mengambil pundi-pundi amal di balik do’a ibu yang terus mengalir.

KIAMAT DAN BENCANA


Oleh : Mtt Qeen


Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang yang tidak diragukan lagi, namun kebanyakan manusia tidak beriman.” (QS. Al-Mu’min : 59)

Ayat di atas merupan salah satu dari demikian banyak ayat dalam Al-Qur’an yang menyinggung permasalahan hari kiamat. Hari dimana tidak berlaku lagi hukum-hukum, anak-anak ditinggalkan, harta dibiarkan, karena bumi telah diguncangkan, langit digulung, gunug-gunung dimuntahkan, sehingga berakhirlah seluruh peradaban makhluk, termasuk kita manusia.

Dalam Islam adalah termasuk salah satu rukun Iman, yakni percaya hari kiamat. Kiamat bisa diartikan tamat atau berakhir. Seperti halnya sebuah batu yang kokoh di tanah lapang, ketika lama ditimpa oleh panas dan hujan, maka suatu saat ia akan lapuk, dan berakhir menjadi debu-debu yang mampu diterbangkan oleh angin yang lembut. Maka nama batu akan punah menjadi debu. Allah SWT sudah menjelaskan teori kiamat ini jauh-jauh hari dalam sebuah firman-Nya,

“Tidakkah mereka memikirkan apa-apa yang ada dalam diri mereka sendiri! Allah tidak meciptakan langit dan bumi dan apa-apa yang ada diantara keduanya, kecuali dengan kebenaran dan dengan tempo yang sudah ditentukan.” (QS. Adz-Dzariyaat : 1-6)

Berbicara soal kiamat banyak Para ahli antronomi dunia yang mempercayai hal ini. Seperti Prof. G Ganauw ia menyebutkan bahwa, “Suatu saat matahari akan kehabisan bahan bakarnya. Tiba-tiba sejenak sangat terang sekali yang tidak lama, namun kemudian berubah turun sampai mencapai 0° Celcius.”[1] Hal ini sangat sepadan dengan firman Allah yang menjelaskan tentang ciri-ciri kiamat yakni,

“Manakala matahari sudah tidak bersinar.” (QS. At-Takwir : 01)

Demikian juga teori Edwin P. Hubble tak kalah menarik, ia menjelaskan bumi dan seluruh galaxi tak ubah seperti balon yang ditiupkan terus menerus oleh seorang anak kecil, terus mengembang, namun lama kelamaan pengembangan itu akan meledak.[2]

Seperti itulah, bumi akan mengalami akhir yang sangat mengerikan, bahkan melebihi bencana-bencana yang pernah kita lihat dan kita rasakan sebelumnya. Ia tak mungkin bisa ditunda, apalagi dielak oleh orang kuat sekalipun.

Lalu apa hubungannya dengan bencana? Perlu kita ketahui, bahwa maraknya bencana yang menimpa berbagai belahan dunia termasuk Indonesia belakangan ini adalah bagian dari proses kiamat. Jika diibaratkan kiamat adalah kematian, maka bencana adalah penyakit yang menghantarkannya menuju kematian.

Bencana menandakan keseimbangan alam tidak stabil. Seperti gempa bumi, tanah longsor, badai, angin besar, bahkan banjir yang berkepanjangan menimpa negeri kita saat ini adalah gambaran bahwa bumi yang kita huni ini sedang sakit, atau bisa dikatakan sudah memasuki fase-fase kritis. Sudah terlalu tua umurnya, seperti halnya yang telah dijumpai oleh Nabi SAW dalam Isra’ Mi’raj, bahwa bumi digambarkan seperti seorang nenek yang lanjut usia, namun masih memiliki kegemaran bersolek. Itulah dunia dengan segala penyakit dan kelemahannya.

Berbahagialah untuk orang-orang yang beriman yang memepercayai adanya hari kiamat, karena tak bisa dipungkiri sejauh perjalan panjang dunia, maka sejauh itu pula kelakukan-kelakuan bejat manusia akan terus mengantarkan dunia kepada peristiwa kiamat yang maha dahsyat ini. Dunia dan alam raya akan hancur lebur seperti debu-debu yang berterbangan, ia akan berakhir menurut waktu yang sudah ditentukan Allah SWT. Wallahu a’lam! Entah kapan waktunya.



[1] Labib MZ. Perjalanan Hidup Ssesudah Mati. Hlm 185

[2] Ibid. Halm 186

Selasa, 16 Desember 2008

DO’A ANAK-ANAK PIATU



Pagi ini belum terang

Rumput ilalang telah bergoyang

Diterpa angin

Begitu dingin.


Embun-embun yang terlelap

Berguguran membasahi bumi

Menjadi lembab

Seluruh kedalaman hati.


Anak-anak piatu

Melangkah dengan sepatu

Mereka berbaris mapan

Seperti prajurit Sulaiman.


Membawa setangkai kamboja

Mereka tampak begitu lugu

Mencari nisan induknya

Melepas rindu.


Aku pun tak kalah pergi

Bangkit dari selimut

Segera meraih peci

Sarung masih tersangkut.


Tak lupa kitab suci

Ku bawa berlari menuju barisan

Kubentangkan ayat-ayat

Ke dalam do’a yang kian menyayat.


“Tuhan semesta

Syurgalah untuk Ibu-Ibu perkasa

Mereka di dalam pusara

Membawa jasa sebetang usia.”


Desember 2008

Rabu, 03 Desember 2008

INTELEKTUAL MUDA DALAM BELENGGU SAMPAH PERMEN



Mtt Qeen



Suka makan permen? Tentu sebagian besar remaja Indonesia akan menjawab ‘ya’ dengan sekelebat senyum yang mengembang. Boleh jadi mereka beralasan bahwa permen itu memiliki banyak khasiat, antara lain mampu mencairkan suasana, menghilangkan jenuh dan bisa menetralisir ngantuk. Hal itu bisa saja benar adanya, sebab mengulum permen dengan mata terpejam dan membiarkan lidah mencecapinya sungguh terasa menentramkan. Rasa permen yang khas tak jarang membuat ketagihan. Maka manis permen tak hanya dinikmati yang tengah memakannya, namun juga dinikmati oleh produsen dan distributornya yang lain.


Akan tetapi manisnya permen di kampus UIN Jakarta tidak semanis Kiss dan Relaxa. Manisnya hanya menyisakan berkas-berkas sampah yang bertebaran di mana-mana. Sampah-sampah kecil yang menghiasi sepanjang alun-alun kampus, lobi, pelataran, hingga ruang belajar mahasiswa. Sangat tidak disiplin memang, tapi begitulah setiap hari, akan selalu ada generasi selanjutnya yang akan melakukan hal serupa, baik perempuan maupun laki-laki, bahkan sebagian mereka tak jarang menciptakan sampah-sampah yang lebih besar, seperti sisa bungkus makanan, botol minuman dan sampah-sampah plastik ke sudut ruangan yang menurut mereka aman dari introgasi mata. Inilah pemandangan aneh dari prilaku sebagian intelektual muda Muslim Ciputat dewasa ini.

Bahkan beberapa hari yang lalu, ketika kampanye politik mahasiswa mulai digelar, sampah yang mungil ini sudah berubah menjadi gunung-gunung kecil di setiap arah mata memandang. Di semua sudut. Berbaur dengan tumpahan air botol mineral dan plastik-plastik makanan, sampah itu menjadi sangat bervariasi dan menjijikkan. Alhasil UIN Syahid seketika berubah menjadi kandang ayam yang termegah di dunia. Ini suatu pemandangan yang tidak lazim untuk sebuah Universitas Islam ternama. Sementara dari pihak pelaksana kampenye tidak satu pun dari mereka yang berani unjuk gigi untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya ini hingga kegiatan itu usai.


Tentu hal semacam ini sangat disayangkan. Karena disamping memperburuk citra intelektual muda seorang muslim dan merendahkan identitas kampus, sampah kecil ini juga akan menjadi beban bagi petugas kebersihan, yang seharusnya mereka bekerja seperlunya, akhirnya harus ektra time. Secara tidak sadar intelektual seorang mahasiswa tergadaikan oleh sebungkus permen oleh do’a orang-orang yang teraniaya.


Padahal jika dipandang dari kaca mata agama, bisa disebut dienul Islam adalah yang paling banyak menganjurkan penganutnya untuk senantiasa menjaga kebersihan. Karena hadits Nabi mengatakan, ‘kebersihan adalah sebagian dari iman’. Dengan kebersihan akan berbuah kesehatan. Sementara kesehatan bagi seorang muslim adalah ruh ilmu, iman dan amal.


Lalu ini salah siapa? Kita semua bersalah. Sebagai mahasiswa, saya tidak menyudutkan persoalan ini sepenuhnya kepada intelektual muda sebagai dalang dari krisis kedisiplinan dalam bidang kebersihan ini. Tapi, harus diakui bahwa tingkat kesadaran mahasiswa sampai hari ini memang masih berada jauh di bawah garis standarisasi normal kemanusiaan. Boleh dikatakan mahasiswa UIN tergolong pemalas. Namun di sisi lain juga ada peran yang tertinggal oleh pihak yang berwenang (pengurus UIN) yang seharusnya lebih vokal dalam melestarikan budaya hidup bersih kepada mahasiswa. Sebab selama ini seolah-olah Pihak UIN buta dengan kejorokan mahasiswanya.


Di sini ada beberapa langkah yang penulis tawarkan untuk mengatasi problem ini. Antara lain, yaitu pertama usaha untuk menumbuhkan kembali kesadaran mahasiswa untuk mencintai kebersihan dengan melakukan sosialisasi massal oleh pihak Rektorat atau Dekanat, baik berupa seminar atau kajian-kajian khusus yang unik dan naratif, karena selama ini tema tentang ‘cinta lingkungan kampus’ itu jarang sekali diangkat ke permukaan. Akhirnya mahasiswa UIN seakan-akan selalu dimanjakan.


Kedua, sebagai pihak yang berwenang dalam menegakkan kebersihan kampus hendaknya melihat kapasitas mahasiswa, sebab selama ini terkesan UIN terlalu hemat atau mungkin tidak mampu membeli tong sampah yang lebih besar dari sebuah asbak rokok, yang kapasitasnya sudah jelas tidak mampu menampung sampah-sampah kepala mahasiswa yang demikian banyak.


Nah, jika hal ini sudah terlaksana, maka tinggal usaha sadar dari intektual-intelektual muda untuk disiplin menjalankan misi naluri kemanusiaannya. Paling tidak berusaha untuk membuang sampah sisa permen ke dalam tempat pembuangannya, karena jendela, lantai, pojok ruangan dan tempat yang bersih lainnya bukan tempat pembuangan sampah. Namun, jika mahasiswa dan pengurus UIN masih berlarut-larut dalam penantian dan kekolotan, maka pusat studi Islam kita ini akan semakin di pandang sebelah mata oleh negara dan bahkan dunia.

Selasa, 02 Desember 2008

MENJADI MANUSIA YANG DIRINDUKAN


Kemuliaan seseorang dapat dilihat dari sejauh mana dirinya punya nilai manfaat lebih bagi orang lain. Rasulullah SAW bersabda, "Khairunnas anfa’uhum linnas", "Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak mamfaatnya bagi orang lain." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini memberikan isyarat bahwa, jikalau ingin mengukur derajat kemuliaan akhlak kita, maka ukurlah sejauh mana nilai manfaat diri kita ini bagi orang lain? Tanyakan pada diri kita masing-masing, apakah saya ini termasuk manusia wajib, sunat, mubah, atau malah manusia haram?

Manusia wajib ialah jikalau keberadannya sangat dirindukan, sangat memberi manfaat dan perilakunya membuat hati orang lain di sekitarnya tercuri. Tanda-tanda yang nampak dari seorang manusia wajib, diantaranya dia seorang pemalu, jarang mengganggu orang lain sehingga orang lain merasa aman darinya. Perilaku kesehariannya lebih banyak kebaikannya. Ucapannya senantiasa terpelihara, sehingga lebih banyak berbuat daripada berbicara. Sedikit kesalahannya, tidak suka mencampuri yang bukan urusannya, dan sangat nikmat kalau berbuat kebaikan. Hari-harinya tidak lepas dari menjaga silaturahmi, sikapnya penuh wibawa, penyabar, selalu berterima kasih, penyantun, lemah lembut, bisa mengendalikan diri, serta penuh kasih sayang.

Bukan kebiasaan orang baik yang berperilaku melaknat, memaki-maki, memfitnah, menggunjing, bersikap tergesa-gesa, dengki, bakhil dan menghasut. Justru ia selalu berwajah cerah, ramah tamah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah, dan marahnya pun karena Allah SWT.

Karenanya, siapapun di dekatnya pastilah akan tercuri hatinya. Kata-katanya akan senantiasa memberikan kedamaian. Keramahannya pun benar-benar menjadi penyejuk bagi hati yang gelisah. Jikalau saja orang yang berakhlak mulia ini tidak ada, maka siapapun akan merasa kehilangan, akan terasa ada sesuatu yang kosong dalam hidup mereka. Orang yang wajib, adanya pasti penuh manfaat, karena demikianlah perwududan akhlak yang baik.

Sementara orang yang sunnah, keberadaannya bermanfaat, tetapi kalau pun tidak ada maka tidak tercuri hati orang-orang yang di dekatnya. Tidak ada rongga kosong akibat rasa kehilangan. Hal ini terjadi mungkin karena kedalaman dan ketulusan amalnya belum mengalir dari lubuk hati yang murni. Masih ada sifat riya’, masih ada sifat kesombongan dan belum bisa sepenuhnya mengendalikan diri.

Adapun orang yang mubah, ada dan tiadanya tidak berpengaruh. Ia datang di tempat kerja atau bolos sama saja. Seorang pemuda yang ketika ada di rumah keadaan menjadi berantakan, dan kalau tidak adapun tetap berantakan. Inilah pemuda yang mubah. Ada dan tiadanya tidak membawa mamfaat, tidak juga membawa mudharat.

Lain halnya dengan orang bermotif haram, keberadaannya malah selalu menjadi musibah, sedangkan ketiadaannya justru disyukuri. Jika dia pergi ke tempat kerja, akan membuat orang lain gelisah. Ketika orang ini diberhentikan dari pekerjaannya, maka karyawan yang lain malah akan mensyukurinya.

Masya Allah, tidak ada salahnya kita merenung sejenak, tanyakan pada diri kita, apakah kita ini termasuk manusia yang dirindukan bagi orang lain? Bagi orang tua, bagi keluarga, istri dan anak-anak, teman-teman kerja, masyarakat, dan setiap orang-orang yang kita temui? Adanya kita dalam kehidupan mereka apakah sebagai manusia wajib, sunah, mubah, atau haram?

Minggu, 30 November 2008

QEEN ID CARD






Kajian Kritis Krisis Energi di Indonesia



Mtt_Qeen

KORAN SINDO, 15 Juli 2008


Krisis energi global yang diramalkan sejumlah tokoh dunia sejak puluhan tahun lalu akhirnya terbukti dan berbuah pahit sekarang. Hal ini menjadi sangat menyedihkan jika Indonesia yang menjadi objek derita utamanya. Tak bisa dipungkiri, sebab setelah Indonesia mengalami problem BBM yang berbuntut maut beberapa bulan lalu, ternyata Indonesia mendapatkan masalah baru lagi yang tak kalah serius yaitu krisis listrik yang ditandai dengan kebijakan pemadaman listrik bergilir se-Jawa-Bali oleh PT PLN sejak dua bulan ini, dan konon hal ini akan terus berlanjut hingga tahun 2009.

Bukan itu saja, krisis listrik ini ternyata berbuah kebijakan-kebijakan baru oleh pemerintah dengan turunnya SKB lima mentri yang memutuskan pengalihan waktu kerja ke sabtu-minggu. Tak ayal, hal ini mendapat protes keras dari berbagai elemen masyarakat, terutama oleh ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Sandiaga S Uno. Ia menjelaskan bahwa pengalihan ini akan berdampak besar bagi UKM, yakni kenaikan biaya produksi dan penurunan efisiensi kerja.

Jika dilihat dari sisi konsumen sebagai pengguna listrik, maka masalah pemadaman yang kini menjadi hantu baru bagi konsumen listrik ini adalah merupakan pelanggaran terhadap hak-hak publik yang tidak hanya dilakukan oleh PT PLN sebagai operator, tapi juga pemerintah sebagai regulator. Kenapa tidak? Karena sesuai dengan isi UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen (UUPK) dan SK Dirjen LPE Nomor 114 Tahun 2003 tentang mutu layanan yang harus dideklarasikan oleh PLN. Dengan demikian maka PT PLN dan pemerintah adalah merupakan pelayan yang seharusnya mengerti kebutuhan publik.

Namun, kita juga tidak perlu menyudutkan sepenuhnya kepada PLN dan pemerintah sebagai dalang dari krisis listrik di tanah air, sebab harus kita akui bahwa kita sebagai konsumen juga ikut andil dalam menggiring Indonesia kepada kondisi seperti sekarang ini, terutama bagi masyarak menengah ke atas yang dominan menggunakan pasokan listrik yang lebih besar. Seperti penggunaa lampu taman yang besar, lampu pagar, lampu hias dan penggunaan alat elektronik yang berlebihan.

Untuk menyelesaikan problem ini ada tiga solusi yang penulis kira mampu untuk meminimalisirnya, yaitu pertama pemerintah harus berani merombak politik pengelolaan energi nasional terhadap berbagai kontrak perjanjian dagang di bidang energi dengan pihak asing. Sebab jika hal tersebut terus dilakukan, maka akan sangat merugikan kepentingan nasional.

Kedua, pihak PLN dan Badan Energi harus bernegosiasi dalam permasalahan harga, sebab akar dari permasalahan ini adalah bermula dari naiknya harga bahan bakar yang menyebabkan PLN harus membeli bahan bakar sama dengan harga pasar.

Ketiga, perlunya ide kreatif dari berbagai kalangan masyarakat untuk menemukan energi baru seperti yang dilakukan oleh masyarakat Inggris dan Thailand baru-baru ini yang antusias memanfaatkan energi angin sebagi pasokan listrik. Sebab, jika selamanya masyarakat dan pemerintah negeri ini berlarut-larut dalam giliran dan penantian, maka Indonesia selamanya akan kerdil.

SALING BEREMPATI


Mtt Qeen

KORAN SINDO, Juni 2008


Pengumuman kenaikan BBM yang dilakukan oleh pemerintah beberapa hari yang lalu ternyata memiliki imbas yang sangat besar terhadap gejolak kehidupan masyarakat di Indonesia. Mulai dari aksi penolakan dari berbagai elemen masyarakat yang berbuntut kisruh, penetapan tarif sepihak oleh angkutan-angkutan umum, hingga muncul argumen-argumen panas perihal BLT oleh salah satu elit politik yang membawa jargon kepala banteng dalam sebuah pertemuan partainya.

Hal-hal seperti ini menurut saya adalah suatu yang tidak asing lagi untuk di lihat dan dinikmati oleh mata telanjang. Karena sejauh perjalanan perpolitikan bangsa, ketika BBM itu dinaikkan, pasti akan terjadi berbagai pergolakan dari elemen masyarakat, terutama mahasiswa, dengan membawa bendera politiknya dan atas nama rakyat mereka akan melakukan aksi demontrasi, turun ke jalan-jalan. Dan tidak jarang pula aksi-aksi mereka ternyata membuat problem baru di jalur lain.

Dampak kenaikan minyak mentah dunia ini juga dirasakan di berbagai belahan dunia, contohnya Myanmar, Filipina, mereka disamping menuntut kenaikan BBM juga sedang mengalami krisis pangan yang berimbas bertambahnya angka kemiskinan. Ini memberikan indikasi bahwa kasus yang melanda negeri kita ini merupakan bencana internasional yang bermula naiknya harga minyak mentah dunia.

Sebagai warga demokrasi tentu kita boleh menolak dan mendukung program kenaikan BBM ini. Karena Negara Indonesia memiliki landasan pancasila yang menjunjung tinggi hak-hak dan kebebasan rakyatnya untuk memilih. Namun dalam hal ini sebaiknya kita harus melihat dulu apa sebenarnya pokok permasalahan keputusan pemerintah dengan masyarakat? Karena dua kubu inilah yang menjadikan problem ini semakin rumit dan bercabang-cabang. Dan sampai hari inipun salah satu diantara mereka masih mengedepankan tanduknya.

Pertama, kita harus melihat dari sisi pemerintah yang memutuskan naiknya harga BBM. Andai posisi kita saat ini adalah pemerintah (presiden), langkah apa yang akan kita ambil ketika tuntutan minyak dunia sudah hampir menembus $125 / barel? Apakah kita harus tetap bertahan, sementara APBN menipis. Ini adalah suatu keputusan yang harus diambil cepat dan tepat oleh kepala negara, karena jika kita memikirkan itu terlalu lama, APBN juga akan semakin terkuras, maka nantinya akan berimbas inflasi yang sangat besar seperti yang terjadi pada tahun 1998 dulu.

Kemudian apakah ada inisiatif lain yang ditawarkan oleh Wakil-wakil rakyat? Hal inipun belum sampai terdengar informasinya ke telinga kita, atau mereka yang duduk di bangku pemerintahan yang konon sebagai wakil rakyat itu buta dengan ide-ide, atau asik menikmati suasana baru gedung megah yang belum lama ini direnovasi. Saya juga tidak mengerti apa pekerjaan mereka di sana.

Saya mengakui bahwa tantangan pemerintah saat ini sangat ketat sekali, apalagi pak SBY sebagai orang nomor satu di negeri ini. Jika boleh dibayangkan, gaji yang besar itu tidak mungkin membuat pak SBY hidup tenang seperti kita yang hanya memikirkan seputar jalan macet dan makan pagi. Ia setiap hari disamping memperbaiki kualitas pendidikan, pembangunan sarana-prasarana pasca bencana, ia juga dituntut harus mengendalikan laju krisis pangan yang menjadi ancaman global saat ini. Hal ini dibuktikan oleh wawancara Ibu Negara Ani Yudoyono yang saya kutif dalam sebuah media nasional beberapa hari yang lalu, “Kami cukup prihatin dengan keputusan ini. Tetapi, saya tahu bahwa pemeritah sudah berusaha untuk berbuat yang terbaik untuk rakyatnya. Tidak benar kalau pemerintah mau menyusahkan rakyatnya, tidak ada satupun pemerintah mulai dari presiden pertama sampai sekarang yang ingin menzalimi rakyatnya. andaikata kenaikan BBM, apa nanti keuntungannya untuk kita pribadi, tidak ada.”

Kedua, kita melihat dari sisi rakyat miskin. Andai posisi kita saat ini adalah rakyat miskin, maka kitalah yang menjadi korban utama dari kenaikan BBM ini. Tentunya ketika sebelum dinaikkan BBM daya beli bisa mencapai 100%, maka untuk saat ini akan menurun menjadi 80% karena melambungnya harga-harga, namun ketika diturunkan program BLT bagi masyarakat miskin, maka tentunya akan membantu untuk mencapai kembali daya beli mereka menjadi sedia kala. Hal ini menurut saya merupakan open close game yang sangat bagus oleh pemerintah, karena dengan adanya BLT berarti mengembalikan daya beli masyarakat menjadi sedia kala ketika BBM itu dinaikkan. Cobalah kita berhitung!

Sementara ocehan-ocehan dari para elit politik yang mengatakan bahwa BLT menjadikan rakyat sebagai pengemis atau peminta-minta, hal itu saya rasa tidak perlu di dengar, karena saat ini kita tidak butuh wejangan-wejangan yang basi yang tidak membangun, yang kita butuhkan saat ini adalah solusi tepat, cepat dan membangun. Sekarang bukan zamannya untuk saling caci-mencaci, tetapi bagaimana agar negara kita ini menjadi baldatun toyyibatun wa robbun ghofur.

Saya sebagai mahasiswa sangat mendukung sekali langkah-langkah pemerintah untuk menaikkan BBM, selama itu menjadi keputusan yang terbaik, hanya saja saya masih meragukan proses pembagian BLT, karena saya takut hal ini akan menjadi ladang baru bagi tikus-tikus berdasi untuk melakukan aksinya di ruang gelap.

LOMBA CERPEN NASIONAL


Badan Ekskutif Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto bekerjasama dengan OBSESI Press Selenggarakan LOMBA CIPTA CERPEN RELIGIUSITAS-CINTA TINGKAT MAHASISWA-PELAJAR SE-INDONESIA

Persyaratan Cerpen yang dilombakan:
(1) Peserta dibatasi emailkan cerpen 1 judul cerpen karya terbaiknya,
sesuai dengan topik umumnya, yakni “Religiusitas-Cinta”;
(2) Cerpen yang diemailkan adalah karya yang belum pernah
dipublikasikan di media massa ataupun dalam bentuk buku;
(3) Diemailkan ke lpmobsesi_stpwt[at]yahoo[dot]com, dan di-CC ke
obsesipress[at]gmail[dot]com ;
(4) Disertakan scan dari Kartu Pelajar atau Kartu Mahasiswa sebagai
identitas;
(5) Biografi penulis maksimal 1 halaman, dan scan foto penulis;
(6) Naskah diterima dari pengiriman email tanggal 22 Oktober - 22
Desember 2008;
(7) Pemenang yang dipilih adalah Juara I, II, dan Juara III, akan
diumumkan pada tanggal 1 Januari 2009, dan penganugerahan hadiah para
juara dan nominator akan dilangsungkan 14 Februari 2009, bersamaan
dengan penganugerahan juara Lomba Esai Mahasiswa Tingkat Nasional
Periode ke-2.

Adapun hadiah yang akan diberikan adalah:
(1) Bagi cerpen Juara I, II, dan III, akan mendapatkan hadiah uang
sebesar =
Juara I - Rp.700.000,
Juara II - Rp.500.000,
Juara III - Rp.300.000 ;

(2) Bagi Juara I, II, dan III, akan mendapatkan Piala Tetap dari Ketua
STAIN Purwokerto;

(3) Bagi Juara I, II, III, dan 27 nominator, maka karya cerpennya akan
dibukukan dan diterbitkan oleh penerbit OBSESI Press dalam bentuk
eksklusif ;

(4) Bagi Juara I, II, III, dan 27 nominator, akan mendapatkan
SERTIFIKAT JUARA atau SERTIFIKAT NOMINATOR ;

(5) Bagi Juara I, II, III akan mendapatkan masing-masing 3 eksemplar
BUKU ANTOLOGI CERPEN “RELIGIOSITAS CINTA” tersebut; dan 27 nominator
akan mendapatkan masing-masing 2 eksemplar ;

(6) Penganugerahan hadiah/buku antologi kepada para juara dan
nominator akan dilangsungkan 14 Februari 2009, bersamaan dengan
penganugerahan juara Lomba Esai Mahasiswa Tingkat Nasional Periode ke-2.

Tim Juri Nasional :
(1) Drs. Ahmadun Yosi Herfanda (Sastrawan, dan Redaktur Sastra Budaya
koran Republika - Jakarta);
(2) Abdul Wachid B.S., S.S., M.Hum. (Sastrawan, Dosen Bahasa dan
Sastra Indonesia, Kritikus Sastra) ;
(3) Heru Kurniawan, S.Pd., M.Hum. (Sastrawan, Dosen Bahasa dan Sastra
Indonesia, Editor) .

Jumat, 28 November 2008

RESENSI NOVEL A DEATH IN VIENNA


Judul Buku : A Death in Vienna

Penulis : Frank Tallis

Penerbit : Qanita

Tahun Terbit : Maret - 2007

Jumlah Halaman : 580



“Itu adalah hari saat terjadinya badai besar. Aku ingat dengan baik karena ayahu – Mendel Liebermann – mengundangku untuk minum kopi di The Imperial. Aku curiga bahwa ia punya maksud tertentu....”


Awal yang sangat memikat untuk gaya penceritaan sebuah karya fiksi. Elegan, multi tafsir dan penuh dengan teka-teki. Bermula dari kalimat inilah kisah A Death in Vienna mengalir bak gondola kecil di sungai yang deras, yang akan membawa pembaca terhanyut jauh ke dalam analisis peristiwa yang tajam, orisinil, dan mencerahkan, hingga sampai ke ujung halaman.

Misteri pembunuhan adalah menjadi garis besar cerita pada novel ini, sebab seorang wanita ditemukan tewas di apartemennya dengan meninggalkan sebuah pesan misterius yang menggambarkan seolah-olah ia sendiri yang melakukan pembunuhan;


Tuhan, ampuni aku atas apa yang telah kulakukan. Di dunia ini memang ada pengetahuan yang terlarang. Ia akan membawaku ke neraka dan tak ada jalan untuk bertobat.


Wanita itu bernama Charlotte Lowestein yang dikenal sebagai seorang mediator. Setiap minggu sekelompok orang datang ke apartemennya untuk melakukan upacara pemanggilan arwah. Ia meninggal dengan luka tembak di dadanya, akan tetapi fakta menunjukkan berbagai keanehan, sebab di dalam kamar tersebut tidak ditemukan sepucuk senjatapun, sementara pintu kamarnya terkunci rapih dari dalam dan tidak ada tanda-tanda orang melarikan diri. Lalu ketika dilakukan otopsi oleh Profesor Mathias, ia tidak menemukan peluru di dalam tubuh Lotte.


Tepat di malam kematian Lotte itulah badai hebat melanda Wina. Kematian itu pun kemudian dikaitkan dengan persekutuan dengan setan oleh teman-teman kelompoknya. Ada kekuatan supranatural yang terlibat dalam kematian itu. Sebab, fakta itu diperkuat lagi dengan ditemukannya sebuah kotak Jepang yang berisi patung Mesir – Dewa Badai - yang juga terkunci dari dalam.


Pihak kepolisian Wina yang dipimpin oleh inspektur Oskar Rheinhardt berusaha memecahkan kasus ini. Meskipun berusaha menggunakan akal sehat dan berdasarkan fakta yang ada, penyelidikan menemui jalan buntu. Akhirnya inspektur Reinhard meminta bantuan Max Liebermann - seorang psikiater - untuk ikut dalam penyelidikan. Liebermann berusaha menganalisa fakta yang ada di lihat dari sisi yang berbeda. Di sini pembaca akan disuguhkan banyak teori psikologi analisis yang berasal dari tokoh psikologi sakral ternama Sigmun Freud.


Setelah penyidikan yang cukup melelahkan ditemukanlah alibi bahwa tersangka kemungkinan adalah tamu-tamu yang terlibat dalam upacara pemanggilan arwah. Namun masalah pembunuhan itu menjadi semakin rumit ketika tukang kunci Uberhorst terbunuh sadis di kamarnya dengan luka menganga. Wajahnya hancur, pipi kirinya melesak ke dalam, dan tulang rahangnya berantakan. Dua peristiwa pembunuhan inilah akan membuat emosi pembaca kembali dipermainkan. Siapa sebenarnya pelaku dari dua motif pembunuhan yang berbeda ini? Apakah dilakukan oleh orang yang sama atau tidak.


Sementara itu Liebermann menghadapi masalah serius di rumah sakit tempatnya bekerja. Sebuah eksperimen sedang diuji coba. Lieberman tidak setuju dengan sesi elektroterapi yang dilakukan oleh rekan sejawatnya dalam pengobatan pasien. Ia lebih memilih pendekatan psikologis dalam pengobatan trauma seseorang. Salah satu pasiennya Amelia Lytgate, mengalami kelumpuhan dan ada kecenderungan mengalami kepribadian ganda. Lieberman melakukan pendekatan lewat metode hipnotis untuk menelusuri penyebab trauma yang dialami pasiennya. Dan Miss Lytgate inilah nantinya yang akan menbatu inspektur Rheinhardt dan Liebermann dalam memecahkan kasus kematian Charlotte Lowenstein.


Melalui berbagai analisa dan penyelidikan yang akurat akhirnya terungkaplah siapa yang membunuh Lotte dan Uberhorst. Di sini penulis sangat piawai meletakkan deretan analisa dan penyelesaian dengan tidak terburu-buru.


Novel ini juga menceritakan sekelumit tentang kisah cinta Liebermann, yakni tentang hubungannya dengan Clara yang disuguhkan tidak terlalu berlebihan. Masalah keraguannya untuk meneruskan pertunangannya dengan Clara ke jenjang selanjutnya adalah menjadi topik utama pada bab ini.


Novel karya Frank Tallis ini dibagi ke dalam 6 bagian. Alur cerita agak sedikit lamban, namun bab-babnya yang pendek akan mampu membuat pembacanya tidak meninggalkan buku ini, karena antara bab yang satu dengan yang lainnya memiliki keterkaitan alur yang erat. Hanya saja pembaca akan dibuat tertantang untuk mengingat banyaknya tokoh dalam karya ini, seperti Marfled Brugel, Natalie Heck, Heinrich, Juno Horderlin, Zaborsky, Otto Braun dan masih banyak lagi tokoh lain yang tidak kalah penting dalam membangun karya setebal ini.


Adapun yang paling mengasikkan ialah kedua tokoh ini akan mengajak kita menjelajahi kota Wina - Austria, kota eksotik yang menjadi permata di Eropa tengah (biarpun secara politis lebih sering dikelompokan ke Eropa barat, tapi secara geografis lebih tepat di Eropa tengah). Kota yang kaya akan seni, filsafat, arkeologi, musik dan sains. Aroma abad pertengahan itu sangat terasa sekali dengan kekhasan budaya, seperti kendaraan omni bus, kereta kuda dan gedung-gedung peninggalan raja-raja terdahulu. Pembaca juga akan dihidangkan oleh berbagai nyanyian musik klasik dari banyak bab seperti lagu Winterreise karya Schubert dengan iringan musik piano yang dimainkan oleh Liebermann yang piawai.


Tidak lupa pula Frank Tallis membumbuhi novelnya ini dengan pesan-pesan moral yang sangat menyentuh. Pembaca tentu akan menjumpai sebuah pesan bahwa ‘Kecantikan fisik dapat dengan mudah melemahkan moral, karena orang yang dianggap cantik atau tampan biasanya mudah tergiur oleh dosa kesombongan dan takabbur.


Oleh karena itu, jika anda adalah seorang dokter bedah, psikiater, polisi, penyelidik, sejarawan, arkeolog, dan masyarakat pencinta kisah-kisah menarik, novel ini adalah cocok sebagai perisai mimpi sekaligus kunci pencerahan ide-ide brilian dari seorang Lieberman, Rheinhardt dan Miss Lydget yang dengan kegigihannya mereka mampu mengungkapkan dua misteri pembunuhan yang berbau mistik itu.


Badai besar telah menguji ketajaman analisis dan kesabaran Liebermann. Dan cerita inipun ditutup oleh tulisan Liebermann pada secarik kertas;


Itu adalah hari saat terjadinya badai besar. Aku ingat dengan baik karena ayahu – Mendel Liebermann – mengundangku untuk minum kopi di The Imperial. Aku curiga bahwa ia punya maksud tertentu....