
Oleh : Mtt Qeen
“Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab, dan timbanglah sebelum kamu ditimbang, karena menghisab diri pada hari ini lebih ringan bagimu daripada dihisab di hari kiamat kelak. Dan bersiap-siaplah untuk menghadapi kejadian yang paling besar, karena pada hari itu kamu akan dihadapkan kepada tuhanmu dengan tiada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi.” (HR. Ahmad)
Hadits di atas adalah merupakan salah satu dari sekian banyak terapi menyehatkan rohani yang ditawarkan oleh Islam. Dan salah satunya adalah dengan menghisab diri.
Di dalam Islam dikenal dengan muhasabah yang berarti menghitung atau sering dikenal dengan sebutan hisab. Yang dimaksud menghitung di sini bukan berarti menghitung bentuk angka-angka atau jumlah, melainkan lebih kepada menghitung masa hidup dan penggunaannya, juga mengingat perjalanan hidup yang telah lalu, guna mengetahui kekurangan-kekuarangan dan kealpaan yang telah kita perbuat, agar bisa diperbaiki di masa yang akan datang.
Arus global yang melaju demikian cepat telah membuat manusia sibuk dengan urusan dunia, mereka bekerja keras membanting tulang, tidak jarang kebanyakan dari mereka mengambil jalan yang menyimpang dari koridor Islam, yang pada akhirnya berbuah dosa yang berkepanjangan hingga menggunung tinggi. Ketika dosa sudah menggunung, jiwa-jiwa mereka pun akan mengalami berbagai tekanan sehingga menimbulkan banyak permasalahan dan penyakit hati, baik itu soal keluarga, anak, istri, tetangga, hingga permasalahan kantor yang menyebabkan kehidupan mereka menjadi berantakan dan tidak karuan.
Lalu pernahkah kita mencoba melakukan perenungan dengan menghisab diri? Menghitung dosa yang kita lakukan dalam satu hari, satu minggu, satu bulan, atau bahkan satu tahun? Andai saja kita bersedia menyediakan sebuah kotak kosong, lalu kita masukkan semua dosa-dosa yang kita lakukan ke dalamnya, kira-kira apa yang terjadi? Kuat dugaan bahwa kotak tersebut sudah tak berbentuk kotak lagi, karena tak mampu menampung muatan dosa kita.
Nah, di akhir tahun ini sediakan waktu sejenak untuk merenungkan hal itu! Karena rohani kita butuh kesembuhan, ia sudah terlalu lama berkubang penyakit dari noda dan dosa-dosa yang telah kita lakukan. Tanyakan kepada hati kecil kita segala hal tentang pelanggaran-pelanggaran agama yang telah kita lakukan, mulai dari ibadah shalat yang selalu bolong-bolong, hak anak yatim dan orang miskin yang belum dikeluarkan, sikap dan perilaku kasar kita terhadap orang lain, Bukankah pernah kita terima uang tak jelas statusnya sehingga pendapatan kita berlipat ganda? Bukankah kita tak mau menolong saudara kita yg dalam kesulitan walaupun kita sanggup menolongnya? Daftar ini akan menjadi panjang sekali jika kita terus mengulurnya.
Lalu, apa yang harus kita lakukan?
Allah SWT berfirman dalam Surat Az-Zumar ayat 53, "Katakanlah: "Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Sungguh indah ayat ini, Allah menyapa kita dengan panggilan yang bernada teguran, namun tidak diikuti dengan kalimat yang berbau murka. Justru Allah mengingatkan kita untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah. Allah pun menjanjikan untuk mengampuni dosa-dosa kita.
Karena itu, kosongkanlah lagi kotak yang telah penuh tadi dengan bertaubat kepada Allah. Kita kembalikan kotak itu seperti keadaan semula, kita kembalikan jiwa kita kepada jiwa yang sehat dari noda dosa dan murka Allah.
Wahai Tuhan Yang Kasih Sayang-Nya lebih besar dari murka-Nya, Ampuni kami Ya Allah!

RSS Feed (xml)











