Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Minggu, 21 Desember 2008

PERENUNGAN AKHIR TAHUN


Oleh : Mtt Qeen

“Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab, dan timbanglah sebelum kamu ditimbang, karena menghisab diri pada hari ini lebih ringan bagimu daripada dihisab di hari kiamat kelak. Dan bersiap-siaplah untuk menghadapi kejadian yang paling besar, karena pada hari itu kamu akan dihadapkan kepada tuhanmu dengan tiada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi.” (HR. Ahmad)

Hadits di atas adalah merupakan salah satu dari sekian banyak terapi menyehatkan rohani yang ditawarkan oleh Islam. Dan salah satunya adalah dengan menghisab diri.

Di dalam Islam dikenal dengan muhasabah yang berarti menghitung atau sering dikenal dengan sebutan hisab. Yang dimaksud menghitung di sini bukan berarti menghitung bentuk angka-angka atau jumlah, melainkan lebih kepada menghitung masa hidup dan penggunaannya, juga mengingat perjalanan hidup yang telah lalu, guna mengetahui kekurangan-kekuarangan dan kealpaan yang telah kita perbuat, agar bisa diperbaiki di masa yang akan datang.

Arus global yang melaju demikian cepat telah membuat manusia sibuk dengan urusan dunia, mereka bekerja keras membanting tulang, tidak jarang kebanyakan dari mereka mengambil jalan yang menyimpang dari koridor Islam, yang pada akhirnya berbuah dosa yang berkepanjangan hingga menggunung tinggi. Ketika dosa sudah menggunung, jiwa-jiwa mereka pun akan mengalami berbagai tekanan sehingga menimbulkan banyak permasalahan dan penyakit hati, baik itu soal keluarga, anak, istri, tetangga, hingga permasalahan kantor yang menyebabkan kehidupan mereka menjadi berantakan dan tidak karuan.

Lalu pernahkah kita mencoba melakukan perenungan dengan menghisab diri? Menghitung dosa yang kita lakukan dalam satu hari, satu minggu, satu bulan, atau bahkan satu tahun? Andai saja kita bersedia menyediakan sebuah kotak kosong, lalu kita masukkan semua dosa-dosa yang kita lakukan ke dalamnya, kira-kira apa yang terjadi? Kuat dugaan bahwa kotak tersebut sudah tak berbentuk kotak lagi, karena tak mampu menampung muatan dosa kita.

Nah, di akhir tahun ini sediakan waktu sejenak untuk merenungkan hal itu! Karena rohani kita butuh kesembuhan, ia sudah terlalu lama berkubang penyakit dari noda dan dosa-dosa yang telah kita lakukan. Tanyakan kepada hati kecil kita segala hal tentang pelanggaran-pelanggaran agama yang telah kita lakukan, mulai dari ibadah shalat yang selalu bolong-bolong, hak anak yatim dan orang miskin yang belum dikeluarkan, sikap dan perilaku kasar kita terhadap orang lain, Bukankah pernah kita terima uang tak jelas statusnya sehingga pendapatan kita berlipat ganda? Bukankah kita tak mau menolong saudara kita yg dalam kesulitan walaupun kita sanggup menolongnya? Daftar ini akan menjadi panjang sekali jika kita terus mengulurnya.

Lalu, apa yang harus kita lakukan?

Allah SWT berfirman dalam Surat Az-Zumar ayat 53, "Katakanlah: "Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Sungguh indah ayat ini, Allah menyapa kita dengan panggilan yang bernada teguran, namun tidak diikuti dengan kalimat yang berbau murka. Justru Allah mengingatkan kita untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah. Allah pun menjanjikan untuk mengampuni dosa-dosa kita.

Karena itu, kosongkanlah lagi kotak yang telah penuh tadi dengan bertaubat kepada Allah. Kita kembalikan kotak itu seperti keadaan semula, kita kembalikan jiwa kita kepada jiwa yang sehat dari noda dosa dan murka Allah.

Wahai Tuhan Yang Kasih Sayang-Nya lebih besar dari murka-Nya, Ampuni kami Ya Allah!

SANTUN KEPADA IBU


Oleh : Mtt Qeen

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula)." (QS. Al-Ahqaf :15)

Ayat di atas menunjukkan betapa beratnya tugas yang diemban oleh seorang ibu, baik itu ketika mengandung dan terlebih lagi saat melahirkan anaknya. Ibu mengandung dan melahirkan anaknya dengan susah payah, bahkan dia mengandung dalam keadaan sangat lemah. “Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah....” (QS. Lukman :14)

Allah SWT demikian tegas mengatur jadwal kerja seorang ibu menjadi sangat padat, tentang bagaimana dan berapa lama seorang ibu mengandung dan melahirkan anaknya. Demikian juga dalam hal berapa lama masa penyusuan dan penyapihan yang harus dilakukan oleh seorang ibu, hingga permasalahan bagaimana seorang ibu jika tidak dapat menyusui anaknya secara sempurna pun dibahas oleh Allah dalam kitab-Nya Al-Qur’an secara sempurna.

Ini jelas membuktikan bahwa demikian besar jasa dan pengorbanan seorang ibu bagi kelangsungan hidup anak-anaknya, hingga posisinya tidak bisa digantikan oleh apapun. Pantas Rasul SAW meletakkan derajat seorang ibu jauh tiga kali lipat dari ayah. Dalam pepatah kita pun juga berkata demikian, ‘kasih ayah sepanjang usia, kasih ibu sepanjang masa’ .

Nah, setelah anaknya tumbuh dewasa, maka tanggung jawab itu akan berbalik 180 derajat menjadi kewajiban anak untuk kembali membalas jasa dan pengorbanan ibunya yang sudah mulai lemah. Cara membalasnya ialah dengan berbuat santun dalam arti seluas-luasnya dan bersyukur kepada Allah SWT.

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. Lukman : 14)

Wujud berbuat baik dan bersyukur kepada ibu-bapak itu antara lain ialah memuliakannya dengan selalu mengucapkan kepada mereka perkataan yang baik-baik. Tidak mencela dan tidak bernada keras, sehingga tidak menyinggung perasaannya. Karena sudah banyak sejarah yang menjelaskan tentang adzab bagi pendurhaka, jika seorang ibu telah mengataka “Celaka kamu....!” terhadap anaknya, maka ia akan celaka. Do’a orang tua adalah doa yang paling mustajab di antara do’a-do’a. Maka muliakanlah dia.

Kemudian kewajiban yang lain ialah menghormati dan menyayanginya. Allah SWT berfirman, ”Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang.....” (Al-Isra’ : 24)

Adapun kewajiban selanjutnya adalah memberi nafkah atau infaq untuk kelangsungan hidup mereka, karena sudah tentu mereka tidak lagi meliliki etos kerja yang kuat seperti dulu. Kulitnya sudah mulai keriput, daya dan kekuatannya pun sudah semakin berkurang. Jadi hanya kepada kita ia bisa meminta perlakuan seperti itu.

Terakhir, sebagai anak yang berbakti kepada kedua orang tua ialah selalu berdo’a untuk keselamatannya. Setiap pagi dan sore, hingga menjelang malam dan sepertiga malam. Sebagaimana yang telah diajarkan Allah dalam sebuah firman- Nya,

"Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya (ibu-bapak), sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil." (QS. Al-Isra’ :24)

Berbahagialah untuk mereka yang selalu santun kepada Ibu, karena disamping membalas jasanya, membahagiakannya, mereka juga dapat mengambil pundi-pundi amal di balik do’a ibu yang terus mengalir.

KIAMAT DAN BENCANA


Oleh : Mtt Qeen


Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang yang tidak diragukan lagi, namun kebanyakan manusia tidak beriman.” (QS. Al-Mu’min : 59)

Ayat di atas merupan salah satu dari demikian banyak ayat dalam Al-Qur’an yang menyinggung permasalahan hari kiamat. Hari dimana tidak berlaku lagi hukum-hukum, anak-anak ditinggalkan, harta dibiarkan, karena bumi telah diguncangkan, langit digulung, gunug-gunung dimuntahkan, sehingga berakhirlah seluruh peradaban makhluk, termasuk kita manusia.

Dalam Islam adalah termasuk salah satu rukun Iman, yakni percaya hari kiamat. Kiamat bisa diartikan tamat atau berakhir. Seperti halnya sebuah batu yang kokoh di tanah lapang, ketika lama ditimpa oleh panas dan hujan, maka suatu saat ia akan lapuk, dan berakhir menjadi debu-debu yang mampu diterbangkan oleh angin yang lembut. Maka nama batu akan punah menjadi debu. Allah SWT sudah menjelaskan teori kiamat ini jauh-jauh hari dalam sebuah firman-Nya,

“Tidakkah mereka memikirkan apa-apa yang ada dalam diri mereka sendiri! Allah tidak meciptakan langit dan bumi dan apa-apa yang ada diantara keduanya, kecuali dengan kebenaran dan dengan tempo yang sudah ditentukan.” (QS. Adz-Dzariyaat : 1-6)

Berbicara soal kiamat banyak Para ahli antronomi dunia yang mempercayai hal ini. Seperti Prof. G Ganauw ia menyebutkan bahwa, “Suatu saat matahari akan kehabisan bahan bakarnya. Tiba-tiba sejenak sangat terang sekali yang tidak lama, namun kemudian berubah turun sampai mencapai 0° Celcius.”[1] Hal ini sangat sepadan dengan firman Allah yang menjelaskan tentang ciri-ciri kiamat yakni,

“Manakala matahari sudah tidak bersinar.” (QS. At-Takwir : 01)

Demikian juga teori Edwin P. Hubble tak kalah menarik, ia menjelaskan bumi dan seluruh galaxi tak ubah seperti balon yang ditiupkan terus menerus oleh seorang anak kecil, terus mengembang, namun lama kelamaan pengembangan itu akan meledak.[2]

Seperti itulah, bumi akan mengalami akhir yang sangat mengerikan, bahkan melebihi bencana-bencana yang pernah kita lihat dan kita rasakan sebelumnya. Ia tak mungkin bisa ditunda, apalagi dielak oleh orang kuat sekalipun.

Lalu apa hubungannya dengan bencana? Perlu kita ketahui, bahwa maraknya bencana yang menimpa berbagai belahan dunia termasuk Indonesia belakangan ini adalah bagian dari proses kiamat. Jika diibaratkan kiamat adalah kematian, maka bencana adalah penyakit yang menghantarkannya menuju kematian.

Bencana menandakan keseimbangan alam tidak stabil. Seperti gempa bumi, tanah longsor, badai, angin besar, bahkan banjir yang berkepanjangan menimpa negeri kita saat ini adalah gambaran bahwa bumi yang kita huni ini sedang sakit, atau bisa dikatakan sudah memasuki fase-fase kritis. Sudah terlalu tua umurnya, seperti halnya yang telah dijumpai oleh Nabi SAW dalam Isra’ Mi’raj, bahwa bumi digambarkan seperti seorang nenek yang lanjut usia, namun masih memiliki kegemaran bersolek. Itulah dunia dengan segala penyakit dan kelemahannya.

Berbahagialah untuk orang-orang yang beriman yang memepercayai adanya hari kiamat, karena tak bisa dipungkiri sejauh perjalan panjang dunia, maka sejauh itu pula kelakukan-kelakuan bejat manusia akan terus mengantarkan dunia kepada peristiwa kiamat yang maha dahsyat ini. Dunia dan alam raya akan hancur lebur seperti debu-debu yang berterbangan, ia akan berakhir menurut waktu yang sudah ditentukan Allah SWT. Wallahu a’lam! Entah kapan waktunya.



[1] Labib MZ. Perjalanan Hidup Ssesudah Mati. Hlm 185

[2] Ibid. Halm 186

Selasa, 16 Desember 2008

DO’A ANAK-ANAK PIATU



Pagi ini belum terang

Rumput ilalang telah bergoyang

Diterpa angin

Begitu dingin.


Embun-embun yang terlelap

Berguguran membasahi bumi

Menjadi lembab

Seluruh kedalaman hati.


Anak-anak piatu

Melangkah dengan sepatu

Mereka berbaris mapan

Seperti prajurit Sulaiman.


Membawa setangkai kamboja

Mereka tampak begitu lugu

Mencari nisan induknya

Melepas rindu.


Aku pun tak kalah pergi

Bangkit dari selimut

Segera meraih peci

Sarung masih tersangkut.


Tak lupa kitab suci

Ku bawa berlari menuju barisan

Kubentangkan ayat-ayat

Ke dalam do’a yang kian menyayat.


“Tuhan semesta

Syurgalah untuk Ibu-Ibu perkasa

Mereka di dalam pusara

Membawa jasa sebetang usia.”


Desember 2008

Rabu, 03 Desember 2008

INTELEKTUAL MUDA DALAM BELENGGU SAMPAH PERMEN



Mtt Qeen



Suka makan permen? Tentu sebagian besar remaja Indonesia akan menjawab ‘ya’ dengan sekelebat senyum yang mengembang. Boleh jadi mereka beralasan bahwa permen itu memiliki banyak khasiat, antara lain mampu mencairkan suasana, menghilangkan jenuh dan bisa menetralisir ngantuk. Hal itu bisa saja benar adanya, sebab mengulum permen dengan mata terpejam dan membiarkan lidah mencecapinya sungguh terasa menentramkan. Rasa permen yang khas tak jarang membuat ketagihan. Maka manis permen tak hanya dinikmati yang tengah memakannya, namun juga dinikmati oleh produsen dan distributornya yang lain.


Akan tetapi manisnya permen di kampus UIN Jakarta tidak semanis Kiss dan Relaxa. Manisnya hanya menyisakan berkas-berkas sampah yang bertebaran di mana-mana. Sampah-sampah kecil yang menghiasi sepanjang alun-alun kampus, lobi, pelataran, hingga ruang belajar mahasiswa. Sangat tidak disiplin memang, tapi begitulah setiap hari, akan selalu ada generasi selanjutnya yang akan melakukan hal serupa, baik perempuan maupun laki-laki, bahkan sebagian mereka tak jarang menciptakan sampah-sampah yang lebih besar, seperti sisa bungkus makanan, botol minuman dan sampah-sampah plastik ke sudut ruangan yang menurut mereka aman dari introgasi mata. Inilah pemandangan aneh dari prilaku sebagian intelektual muda Muslim Ciputat dewasa ini.

Bahkan beberapa hari yang lalu, ketika kampanye politik mahasiswa mulai digelar, sampah yang mungil ini sudah berubah menjadi gunung-gunung kecil di setiap arah mata memandang. Di semua sudut. Berbaur dengan tumpahan air botol mineral dan plastik-plastik makanan, sampah itu menjadi sangat bervariasi dan menjijikkan. Alhasil UIN Syahid seketika berubah menjadi kandang ayam yang termegah di dunia. Ini suatu pemandangan yang tidak lazim untuk sebuah Universitas Islam ternama. Sementara dari pihak pelaksana kampenye tidak satu pun dari mereka yang berani unjuk gigi untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya ini hingga kegiatan itu usai.


Tentu hal semacam ini sangat disayangkan. Karena disamping memperburuk citra intelektual muda seorang muslim dan merendahkan identitas kampus, sampah kecil ini juga akan menjadi beban bagi petugas kebersihan, yang seharusnya mereka bekerja seperlunya, akhirnya harus ektra time. Secara tidak sadar intelektual seorang mahasiswa tergadaikan oleh sebungkus permen oleh do’a orang-orang yang teraniaya.


Padahal jika dipandang dari kaca mata agama, bisa disebut dienul Islam adalah yang paling banyak menganjurkan penganutnya untuk senantiasa menjaga kebersihan. Karena hadits Nabi mengatakan, ‘kebersihan adalah sebagian dari iman’. Dengan kebersihan akan berbuah kesehatan. Sementara kesehatan bagi seorang muslim adalah ruh ilmu, iman dan amal.


Lalu ini salah siapa? Kita semua bersalah. Sebagai mahasiswa, saya tidak menyudutkan persoalan ini sepenuhnya kepada intelektual muda sebagai dalang dari krisis kedisiplinan dalam bidang kebersihan ini. Tapi, harus diakui bahwa tingkat kesadaran mahasiswa sampai hari ini memang masih berada jauh di bawah garis standarisasi normal kemanusiaan. Boleh dikatakan mahasiswa UIN tergolong pemalas. Namun di sisi lain juga ada peran yang tertinggal oleh pihak yang berwenang (pengurus UIN) yang seharusnya lebih vokal dalam melestarikan budaya hidup bersih kepada mahasiswa. Sebab selama ini seolah-olah Pihak UIN buta dengan kejorokan mahasiswanya.


Di sini ada beberapa langkah yang penulis tawarkan untuk mengatasi problem ini. Antara lain, yaitu pertama usaha untuk menumbuhkan kembali kesadaran mahasiswa untuk mencintai kebersihan dengan melakukan sosialisasi massal oleh pihak Rektorat atau Dekanat, baik berupa seminar atau kajian-kajian khusus yang unik dan naratif, karena selama ini tema tentang ‘cinta lingkungan kampus’ itu jarang sekali diangkat ke permukaan. Akhirnya mahasiswa UIN seakan-akan selalu dimanjakan.


Kedua, sebagai pihak yang berwenang dalam menegakkan kebersihan kampus hendaknya melihat kapasitas mahasiswa, sebab selama ini terkesan UIN terlalu hemat atau mungkin tidak mampu membeli tong sampah yang lebih besar dari sebuah asbak rokok, yang kapasitasnya sudah jelas tidak mampu menampung sampah-sampah kepala mahasiswa yang demikian banyak.


Nah, jika hal ini sudah terlaksana, maka tinggal usaha sadar dari intektual-intelektual muda untuk disiplin menjalankan misi naluri kemanusiaannya. Paling tidak berusaha untuk membuang sampah sisa permen ke dalam tempat pembuangannya, karena jendela, lantai, pojok ruangan dan tempat yang bersih lainnya bukan tempat pembuangan sampah. Namun, jika mahasiswa dan pengurus UIN masih berlarut-larut dalam penantian dan kekolotan, maka pusat studi Islam kita ini akan semakin di pandang sebelah mata oleh negara dan bahkan dunia.

Selasa, 02 Desember 2008

MENJADI MANUSIA YANG DIRINDUKAN


Kemuliaan seseorang dapat dilihat dari sejauh mana dirinya punya nilai manfaat lebih bagi orang lain. Rasulullah SAW bersabda, "Khairunnas anfa’uhum linnas", "Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak mamfaatnya bagi orang lain." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini memberikan isyarat bahwa, jikalau ingin mengukur derajat kemuliaan akhlak kita, maka ukurlah sejauh mana nilai manfaat diri kita ini bagi orang lain? Tanyakan pada diri kita masing-masing, apakah saya ini termasuk manusia wajib, sunat, mubah, atau malah manusia haram?

Manusia wajib ialah jikalau keberadannya sangat dirindukan, sangat memberi manfaat dan perilakunya membuat hati orang lain di sekitarnya tercuri. Tanda-tanda yang nampak dari seorang manusia wajib, diantaranya dia seorang pemalu, jarang mengganggu orang lain sehingga orang lain merasa aman darinya. Perilaku kesehariannya lebih banyak kebaikannya. Ucapannya senantiasa terpelihara, sehingga lebih banyak berbuat daripada berbicara. Sedikit kesalahannya, tidak suka mencampuri yang bukan urusannya, dan sangat nikmat kalau berbuat kebaikan. Hari-harinya tidak lepas dari menjaga silaturahmi, sikapnya penuh wibawa, penyabar, selalu berterima kasih, penyantun, lemah lembut, bisa mengendalikan diri, serta penuh kasih sayang.

Bukan kebiasaan orang baik yang berperilaku melaknat, memaki-maki, memfitnah, menggunjing, bersikap tergesa-gesa, dengki, bakhil dan menghasut. Justru ia selalu berwajah cerah, ramah tamah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah, dan marahnya pun karena Allah SWT.

Karenanya, siapapun di dekatnya pastilah akan tercuri hatinya. Kata-katanya akan senantiasa memberikan kedamaian. Keramahannya pun benar-benar menjadi penyejuk bagi hati yang gelisah. Jikalau saja orang yang berakhlak mulia ini tidak ada, maka siapapun akan merasa kehilangan, akan terasa ada sesuatu yang kosong dalam hidup mereka. Orang yang wajib, adanya pasti penuh manfaat, karena demikianlah perwududan akhlak yang baik.

Sementara orang yang sunnah, keberadaannya bermanfaat, tetapi kalau pun tidak ada maka tidak tercuri hati orang-orang yang di dekatnya. Tidak ada rongga kosong akibat rasa kehilangan. Hal ini terjadi mungkin karena kedalaman dan ketulusan amalnya belum mengalir dari lubuk hati yang murni. Masih ada sifat riya’, masih ada sifat kesombongan dan belum bisa sepenuhnya mengendalikan diri.

Adapun orang yang mubah, ada dan tiadanya tidak berpengaruh. Ia datang di tempat kerja atau bolos sama saja. Seorang pemuda yang ketika ada di rumah keadaan menjadi berantakan, dan kalau tidak adapun tetap berantakan. Inilah pemuda yang mubah. Ada dan tiadanya tidak membawa mamfaat, tidak juga membawa mudharat.

Lain halnya dengan orang bermotif haram, keberadaannya malah selalu menjadi musibah, sedangkan ketiadaannya justru disyukuri. Jika dia pergi ke tempat kerja, akan membuat orang lain gelisah. Ketika orang ini diberhentikan dari pekerjaannya, maka karyawan yang lain malah akan mensyukurinya.

Masya Allah, tidak ada salahnya kita merenung sejenak, tanyakan pada diri kita, apakah kita ini termasuk manusia yang dirindukan bagi orang lain? Bagi orang tua, bagi keluarga, istri dan anak-anak, teman-teman kerja, masyarakat, dan setiap orang-orang yang kita temui? Adanya kita dalam kehidupan mereka apakah sebagai manusia wajib, sunah, mubah, atau haram?