Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Rabu, 03 Desember 2008

INTELEKTUAL MUDA DALAM BELENGGU SAMPAH PERMEN



Mtt Qeen



Suka makan permen? Tentu sebagian besar remaja Indonesia akan menjawab ‘ya’ dengan sekelebat senyum yang mengembang. Boleh jadi mereka beralasan bahwa permen itu memiliki banyak khasiat, antara lain mampu mencairkan suasana, menghilangkan jenuh dan bisa menetralisir ngantuk. Hal itu bisa saja benar adanya, sebab mengulum permen dengan mata terpejam dan membiarkan lidah mencecapinya sungguh terasa menentramkan. Rasa permen yang khas tak jarang membuat ketagihan. Maka manis permen tak hanya dinikmati yang tengah memakannya, namun juga dinikmati oleh produsen dan distributornya yang lain.


Akan tetapi manisnya permen di kampus UIN Jakarta tidak semanis Kiss dan Relaxa. Manisnya hanya menyisakan berkas-berkas sampah yang bertebaran di mana-mana. Sampah-sampah kecil yang menghiasi sepanjang alun-alun kampus, lobi, pelataran, hingga ruang belajar mahasiswa. Sangat tidak disiplin memang, tapi begitulah setiap hari, akan selalu ada generasi selanjutnya yang akan melakukan hal serupa, baik perempuan maupun laki-laki, bahkan sebagian mereka tak jarang menciptakan sampah-sampah yang lebih besar, seperti sisa bungkus makanan, botol minuman dan sampah-sampah plastik ke sudut ruangan yang menurut mereka aman dari introgasi mata. Inilah pemandangan aneh dari prilaku sebagian intelektual muda Muslim Ciputat dewasa ini.

Bahkan beberapa hari yang lalu, ketika kampanye politik mahasiswa mulai digelar, sampah yang mungil ini sudah berubah menjadi gunung-gunung kecil di setiap arah mata memandang. Di semua sudut. Berbaur dengan tumpahan air botol mineral dan plastik-plastik makanan, sampah itu menjadi sangat bervariasi dan menjijikkan. Alhasil UIN Syahid seketika berubah menjadi kandang ayam yang termegah di dunia. Ini suatu pemandangan yang tidak lazim untuk sebuah Universitas Islam ternama. Sementara dari pihak pelaksana kampenye tidak satu pun dari mereka yang berani unjuk gigi untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya ini hingga kegiatan itu usai.


Tentu hal semacam ini sangat disayangkan. Karena disamping memperburuk citra intelektual muda seorang muslim dan merendahkan identitas kampus, sampah kecil ini juga akan menjadi beban bagi petugas kebersihan, yang seharusnya mereka bekerja seperlunya, akhirnya harus ektra time. Secara tidak sadar intelektual seorang mahasiswa tergadaikan oleh sebungkus permen oleh do’a orang-orang yang teraniaya.


Padahal jika dipandang dari kaca mata agama, bisa disebut dienul Islam adalah yang paling banyak menganjurkan penganutnya untuk senantiasa menjaga kebersihan. Karena hadits Nabi mengatakan, ‘kebersihan adalah sebagian dari iman’. Dengan kebersihan akan berbuah kesehatan. Sementara kesehatan bagi seorang muslim adalah ruh ilmu, iman dan amal.


Lalu ini salah siapa? Kita semua bersalah. Sebagai mahasiswa, saya tidak menyudutkan persoalan ini sepenuhnya kepada intelektual muda sebagai dalang dari krisis kedisiplinan dalam bidang kebersihan ini. Tapi, harus diakui bahwa tingkat kesadaran mahasiswa sampai hari ini memang masih berada jauh di bawah garis standarisasi normal kemanusiaan. Boleh dikatakan mahasiswa UIN tergolong pemalas. Namun di sisi lain juga ada peran yang tertinggal oleh pihak yang berwenang (pengurus UIN) yang seharusnya lebih vokal dalam melestarikan budaya hidup bersih kepada mahasiswa. Sebab selama ini seolah-olah Pihak UIN buta dengan kejorokan mahasiswanya.


Di sini ada beberapa langkah yang penulis tawarkan untuk mengatasi problem ini. Antara lain, yaitu pertama usaha untuk menumbuhkan kembali kesadaran mahasiswa untuk mencintai kebersihan dengan melakukan sosialisasi massal oleh pihak Rektorat atau Dekanat, baik berupa seminar atau kajian-kajian khusus yang unik dan naratif, karena selama ini tema tentang ‘cinta lingkungan kampus’ itu jarang sekali diangkat ke permukaan. Akhirnya mahasiswa UIN seakan-akan selalu dimanjakan.


Kedua, sebagai pihak yang berwenang dalam menegakkan kebersihan kampus hendaknya melihat kapasitas mahasiswa, sebab selama ini terkesan UIN terlalu hemat atau mungkin tidak mampu membeli tong sampah yang lebih besar dari sebuah asbak rokok, yang kapasitasnya sudah jelas tidak mampu menampung sampah-sampah kepala mahasiswa yang demikian banyak.


Nah, jika hal ini sudah terlaksana, maka tinggal usaha sadar dari intektual-intelektual muda untuk disiplin menjalankan misi naluri kemanusiaannya. Paling tidak berusaha untuk membuang sampah sisa permen ke dalam tempat pembuangannya, karena jendela, lantai, pojok ruangan dan tempat yang bersih lainnya bukan tempat pembuangan sampah. Namun, jika mahasiswa dan pengurus UIN masih berlarut-larut dalam penantian dan kekolotan, maka pusat studi Islam kita ini akan semakin di pandang sebelah mata oleh negara dan bahkan dunia.

Tidak ada komentar: