Judul Buku : A Death in Vienna
Penulis : Frank Tallis
Penerbit : Qanita
Tahun Terbit : Maret - 2007
Jumlah Halaman : 580
“Itu adalah hari saat terjadinya badai besar. Aku ingat dengan baik karena ayahu – Mendel Liebermann – mengundangku untuk minum kopi di The Imperial. Aku curiga bahwa ia punya maksud tertentu....”
Awal yang sangat memikat untuk gaya penceritaan sebuah karya fiksi. Elegan, multi tafsir dan penuh dengan teka-teki. Bermula dari kalimat inilah kisah A Death in Vienna mengalir bak gondola kecil di sungai yang deras, yang akan membawa pembaca terhanyut jauh ke dalam analisis peristiwa yang tajam, orisinil, dan mencerahkan, hingga sampai ke ujung halaman.
Misteri pembunuhan adalah menjadi garis besar cerita pada novel ini, sebab seorang wanita ditemukan tewas di apartemennya dengan meninggalkan sebuah pesan misterius yang menggambarkan seolah-olah ia sendiri yang melakukan pembunuhan;
Tuhan, ampuni aku atas apa yang telah kulakukan. Di dunia ini memang ada pengetahuan yang terlarang. Ia akan membawaku ke neraka dan tak ada jalan untuk bertobat.
Wanita itu bernama Charlotte Lowestein yang dikenal sebagai seorang mediator. Setiap minggu sekelompok orang datang ke apartemennya untuk melakukan upacara pemanggilan arwah. Ia meninggal dengan luka tembak di dadanya, akan tetapi fakta menunjukkan berbagai keanehan, sebab di dalam kamar tersebut tidak ditemukan sepucuk senjatapun, sementara pintu kamarnya terkunci rapih dari dalam dan tidak ada tanda-tanda orang melarikan diri. Lalu ketika dilakukan otopsi oleh Profesor Mathias, ia tidak menemukan peluru di dalam tubuh Lotte.
Tepat di malam kematian Lotte itulah badai hebat melanda Wina. Kematian itu pun kemudian dikaitkan dengan persekutuan dengan setan oleh teman-teman kelompoknya. Ada kekuatan supranatural yang terlibat dalam kematian itu. Sebab, fakta itu diperkuat lagi dengan ditemukannya sebuah kotak Jepang yang berisi patung Mesir – Dewa Badai - yang juga terkunci dari dalam.
Pihak kepolisian Wina yang dipimpin oleh inspektur Oskar Rheinhardt berusaha memecahkan kasus ini. Meskipun berusaha menggunakan akal sehat dan berdasarkan fakta yang ada, penyelidikan menemui jalan buntu. Akhirnya inspektur Reinhard meminta bantuan Max Liebermann - seorang psikiater - untuk ikut dalam penyelidikan. Liebermann berusaha menganalisa fakta yang ada di lihat dari sisi yang berbeda. Di sini pembaca akan disuguhkan banyak teori psikologi analisis yang berasal dari tokoh psikologi sakral ternama Sigmun Freud.
Setelah penyidikan yang cukup melelahkan ditemukanlah alibi bahwa tersangka kemungkinan adalah tamu-tamu yang terlibat dalam upacara pemanggilan arwah. Namun masalah pembunuhan itu menjadi semakin rumit ketika tukang kunci Uberhorst terbunuh sadis di kamarnya dengan luka menganga. Wajahnya hancur, pipi kirinya melesak ke dalam, dan tulang rahangnya berantakan. Dua peristiwa pembunuhan inilah akan membuat emosi pembaca kembali dipermainkan. Siapa sebenarnya pelaku dari dua motif pembunuhan yang berbeda ini? Apakah dilakukan oleh orang yang sama atau tidak.
Sementara itu Liebermann menghadapi masalah serius di rumah sakit tempatnya bekerja. Sebuah eksperimen sedang diuji coba. Lieberman tidak setuju dengan sesi elektroterapi yang dilakukan oleh rekan sejawatnya dalam pengobatan pasien. Ia lebih memilih pendekatan psikologis dalam pengobatan trauma seseorang. Salah satu pasiennya Amelia Lytgate, mengalami kelumpuhan dan ada kecenderungan mengalami kepribadian ganda. Lieberman melakukan pendekatan lewat metode hipnotis untuk menelusuri penyebab trauma yang dialami pasiennya. Dan Miss Lytgate inilah nantinya yang akan menbatu inspektur Rheinhardt dan Liebermann dalam memecahkan kasus kematian Charlotte Lowenstein.
Melalui berbagai analisa dan penyelidikan yang akurat akhirnya terungkaplah siapa yang membunuh Lotte dan Uberhorst. Di sini penulis sangat piawai meletakkan deretan analisa dan penyelesaian dengan tidak terburu-buru.
Novel ini juga menceritakan sekelumit tentang kisah cinta Liebermann, yakni tentang hubungannya dengan Clara yang disuguhkan tidak terlalu berlebihan. Masalah keraguannya untuk meneruskan pertunangannya dengan Clara ke jenjang selanjutnya adalah menjadi topik utama pada bab ini.
Novel karya Frank Tallis ini dibagi ke dalam 6 bagian. Alur cerita agak sedikit lamban, namun bab-babnya yang pendek akan mampu membuat pembacanya tidak meninggalkan buku ini, karena antara bab yang satu dengan yang lainnya memiliki keterkaitan alur yang erat. Hanya saja pembaca akan dibuat tertantang untuk mengingat banyaknya tokoh dalam karya ini, seperti Marfled Brugel, Natalie Heck, Heinrich, Juno Horderlin, Zaborsky, Otto Braun dan masih banyak lagi tokoh lain yang tidak kalah penting dalam membangun karya setebal ini.
Adapun yang paling mengasikkan ialah kedua tokoh ini akan mengajak kita menjelajahi kota Wina - Austria, kota eksotik yang menjadi permata di Eropa tengah (biarpun secara politis lebih sering dikelompokan ke Eropa barat, tapi secara geografis lebih tepat di Eropa tengah). Kota yang kaya akan seni, filsafat, arkeologi, musik dan sains. Aroma abad pertengahan itu sangat terasa sekali dengan kekhasan budaya, seperti kendaraan omni bus, kereta kuda dan gedung-gedung peninggalan raja-raja terdahulu. Pembaca juga akan dihidangkan oleh berbagai nyanyian musik klasik dari banyak bab seperti lagu Winterreise karya Schubert dengan iringan musik piano yang dimainkan oleh Liebermann yang piawai.
Tidak lupa pula Frank Tallis membumbuhi novelnya ini dengan pesan-pesan moral yang sangat menyentuh. Pembaca tentu akan menjumpai sebuah pesan bahwa ‘Kecantikan fisik dapat dengan mudah melemahkan moral, karena orang yang dianggap cantik atau tampan biasanya mudah tergiur oleh dosa kesombongan dan takabbur.
Oleh karena itu, jika anda adalah seorang dokter bedah, psikiater, polisi, penyelidik, sejarawan, arkeolog, dan masyarakat pencinta kisah-kisah menarik, novel ini adalah cocok sebagai perisai mimpi sekaligus kunci pencerahan ide-ide brilian dari seorang Lieberman, Rheinhardt dan Miss Lydget yang dengan kegigihannya mereka mampu mengungkapkan dua misteri pembunuhan yang berbau mistik itu.
Badai besar telah menguji ketajaman analisis dan kesabaran Liebermann. Dan cerita inipun ditutup oleh tulisan Liebermann pada secarik kertas;
Itu adalah hari saat terjadinya badai besar. Aku ingat dengan baik karena ayahu – Mendel Liebermann – mengundangku untuk minum kopi di The Imperial. Aku curiga bahwa ia punya maksud tertentu....

RSS Feed (xml)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar