
Oleh : Mtt Qeen
Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang yang tidak diragukan lagi, namun kebanyakan manusia tidak beriman.” (QS. Al-Mu’min : 59)
Ayat di atas merupan salah satu dari demikian banyak ayat dalam Al-Qur’an yang menyinggung permasalahan hari kiamat. Hari dimana tidak berlaku lagi hukum-hukum, anak-anak ditinggalkan, harta dibiarkan, karena bumi telah diguncangkan, langit digulung, gunug-gunung dimuntahkan, sehingga berakhirlah seluruh peradaban makhluk, termasuk kita manusia.
Dalam Islam adalah termasuk salah satu rukun Iman, yakni percaya hari kiamat. Kiamat bisa diartikan tamat atau berakhir. Seperti halnya sebuah batu yang kokoh di tanah lapang, ketika lama ditimpa oleh panas dan hujan, maka suatu saat ia akan lapuk, dan berakhir menjadi debu-debu yang mampu diterbangkan oleh angin yang lembut. Maka nama batu akan punah menjadi debu. Allah SWT sudah menjelaskan teori kiamat ini jauh-jauh hari dalam sebuah firman-Nya,
“Tidakkah mereka memikirkan apa-apa yang ada dalam diri mereka sendiri! Allah tidak meciptakan langit dan bumi dan apa-apa yang ada diantara keduanya, kecuali dengan kebenaran dan dengan tempo yang sudah ditentukan.” (QS. Adz-Dzariyaat : 1-6)
Berbicara soal kiamat banyak Para ahli antronomi dunia yang mempercayai hal ini. Seperti Prof. G Ganauw ia menyebutkan bahwa, “Suatu saat matahari akan kehabisan bahan bakarnya. Tiba-tiba sejenak sangat terang sekali yang tidak lama, namun kemudian berubah turun sampai mencapai 0° Celcius.”[1] Hal ini sangat sepadan dengan firman Allah yang menjelaskan tentang ciri-ciri kiamat yakni,
“Manakala matahari sudah tidak bersinar.” (QS. At-Takwir : 01)
Demikian juga teori Edwin P. Hubble tak kalah menarik, ia menjelaskan bumi dan seluruh galaxi tak ubah seperti balon yang ditiupkan terus menerus oleh seorang anak kecil, terus mengembang, namun lama kelamaan pengembangan itu akan meledak.[2]
Seperti itulah, bumi akan mengalami akhir yang sangat mengerikan, bahkan melebihi bencana-bencana yang pernah kita lihat dan kita rasakan sebelumnya. Ia tak mungkin bisa ditunda, apalagi dielak oleh orang kuat sekalipun.
Lalu apa hubungannya dengan bencana? Perlu kita ketahui, bahwa maraknya bencana yang menimpa berbagai belahan dunia termasuk Indonesia belakangan ini adalah bagian dari proses kiamat. Jika diibaratkan kiamat adalah kematian, maka bencana adalah penyakit yang menghantarkannya menuju kematian.
Bencana menandakan keseimbangan alam tidak stabil. Seperti gempa bumi, tanah longsor, badai, angin besar, bahkan banjir yang berkepanjangan menimpa negeri kita saat ini adalah gambaran bahwa bumi yang kita huni ini sedang sakit, atau bisa dikatakan sudah memasuki fase-fase kritis. Sudah terlalu tua umurnya, seperti halnya yang telah dijumpai oleh Nabi SAW dalam Isra’ Mi’raj, bahwa bumi digambarkan seperti seorang nenek yang lanjut usia, namun masih memiliki kegemaran bersolek. Itulah dunia dengan segala penyakit dan kelemahannya.
Berbahagialah untuk orang-orang yang beriman yang memepercayai adanya hari kiamat, karena tak bisa dipungkiri sejauh perjalan panjang dunia, maka sejauh itu pula kelakukan-kelakuan bejat manusia akan terus mengantarkan dunia kepada peristiwa kiamat yang maha dahsyat ini. Dunia dan alam raya akan hancur lebur seperti debu-debu yang berterbangan, ia akan berakhir menurut waktu yang sudah ditentukan Allah SWT. Wallahu a’lam! Entah kapan waktunya.

RSS Feed (xml)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar