Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Minggu, 30 November 2008

QEEN ID CARD






Kajian Kritis Krisis Energi di Indonesia



Mtt_Qeen

KORAN SINDO, 15 Juli 2008


Krisis energi global yang diramalkan sejumlah tokoh dunia sejak puluhan tahun lalu akhirnya terbukti dan berbuah pahit sekarang. Hal ini menjadi sangat menyedihkan jika Indonesia yang menjadi objek derita utamanya. Tak bisa dipungkiri, sebab setelah Indonesia mengalami problem BBM yang berbuntut maut beberapa bulan lalu, ternyata Indonesia mendapatkan masalah baru lagi yang tak kalah serius yaitu krisis listrik yang ditandai dengan kebijakan pemadaman listrik bergilir se-Jawa-Bali oleh PT PLN sejak dua bulan ini, dan konon hal ini akan terus berlanjut hingga tahun 2009.

Bukan itu saja, krisis listrik ini ternyata berbuah kebijakan-kebijakan baru oleh pemerintah dengan turunnya SKB lima mentri yang memutuskan pengalihan waktu kerja ke sabtu-minggu. Tak ayal, hal ini mendapat protes keras dari berbagai elemen masyarakat, terutama oleh ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Sandiaga S Uno. Ia menjelaskan bahwa pengalihan ini akan berdampak besar bagi UKM, yakni kenaikan biaya produksi dan penurunan efisiensi kerja.

Jika dilihat dari sisi konsumen sebagai pengguna listrik, maka masalah pemadaman yang kini menjadi hantu baru bagi konsumen listrik ini adalah merupakan pelanggaran terhadap hak-hak publik yang tidak hanya dilakukan oleh PT PLN sebagai operator, tapi juga pemerintah sebagai regulator. Kenapa tidak? Karena sesuai dengan isi UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen (UUPK) dan SK Dirjen LPE Nomor 114 Tahun 2003 tentang mutu layanan yang harus dideklarasikan oleh PLN. Dengan demikian maka PT PLN dan pemerintah adalah merupakan pelayan yang seharusnya mengerti kebutuhan publik.

Namun, kita juga tidak perlu menyudutkan sepenuhnya kepada PLN dan pemerintah sebagai dalang dari krisis listrik di tanah air, sebab harus kita akui bahwa kita sebagai konsumen juga ikut andil dalam menggiring Indonesia kepada kondisi seperti sekarang ini, terutama bagi masyarak menengah ke atas yang dominan menggunakan pasokan listrik yang lebih besar. Seperti penggunaa lampu taman yang besar, lampu pagar, lampu hias dan penggunaan alat elektronik yang berlebihan.

Untuk menyelesaikan problem ini ada tiga solusi yang penulis kira mampu untuk meminimalisirnya, yaitu pertama pemerintah harus berani merombak politik pengelolaan energi nasional terhadap berbagai kontrak perjanjian dagang di bidang energi dengan pihak asing. Sebab jika hal tersebut terus dilakukan, maka akan sangat merugikan kepentingan nasional.

Kedua, pihak PLN dan Badan Energi harus bernegosiasi dalam permasalahan harga, sebab akar dari permasalahan ini adalah bermula dari naiknya harga bahan bakar yang menyebabkan PLN harus membeli bahan bakar sama dengan harga pasar.

Ketiga, perlunya ide kreatif dari berbagai kalangan masyarakat untuk menemukan energi baru seperti yang dilakukan oleh masyarakat Inggris dan Thailand baru-baru ini yang antusias memanfaatkan energi angin sebagi pasokan listrik. Sebab, jika selamanya masyarakat dan pemerintah negeri ini berlarut-larut dalam giliran dan penantian, maka Indonesia selamanya akan kerdil.

SALING BEREMPATI


Mtt Qeen

KORAN SINDO, Juni 2008


Pengumuman kenaikan BBM yang dilakukan oleh pemerintah beberapa hari yang lalu ternyata memiliki imbas yang sangat besar terhadap gejolak kehidupan masyarakat di Indonesia. Mulai dari aksi penolakan dari berbagai elemen masyarakat yang berbuntut kisruh, penetapan tarif sepihak oleh angkutan-angkutan umum, hingga muncul argumen-argumen panas perihal BLT oleh salah satu elit politik yang membawa jargon kepala banteng dalam sebuah pertemuan partainya.

Hal-hal seperti ini menurut saya adalah suatu yang tidak asing lagi untuk di lihat dan dinikmati oleh mata telanjang. Karena sejauh perjalanan perpolitikan bangsa, ketika BBM itu dinaikkan, pasti akan terjadi berbagai pergolakan dari elemen masyarakat, terutama mahasiswa, dengan membawa bendera politiknya dan atas nama rakyat mereka akan melakukan aksi demontrasi, turun ke jalan-jalan. Dan tidak jarang pula aksi-aksi mereka ternyata membuat problem baru di jalur lain.

Dampak kenaikan minyak mentah dunia ini juga dirasakan di berbagai belahan dunia, contohnya Myanmar, Filipina, mereka disamping menuntut kenaikan BBM juga sedang mengalami krisis pangan yang berimbas bertambahnya angka kemiskinan. Ini memberikan indikasi bahwa kasus yang melanda negeri kita ini merupakan bencana internasional yang bermula naiknya harga minyak mentah dunia.

Sebagai warga demokrasi tentu kita boleh menolak dan mendukung program kenaikan BBM ini. Karena Negara Indonesia memiliki landasan pancasila yang menjunjung tinggi hak-hak dan kebebasan rakyatnya untuk memilih. Namun dalam hal ini sebaiknya kita harus melihat dulu apa sebenarnya pokok permasalahan keputusan pemerintah dengan masyarakat? Karena dua kubu inilah yang menjadikan problem ini semakin rumit dan bercabang-cabang. Dan sampai hari inipun salah satu diantara mereka masih mengedepankan tanduknya.

Pertama, kita harus melihat dari sisi pemerintah yang memutuskan naiknya harga BBM. Andai posisi kita saat ini adalah pemerintah (presiden), langkah apa yang akan kita ambil ketika tuntutan minyak dunia sudah hampir menembus $125 / barel? Apakah kita harus tetap bertahan, sementara APBN menipis. Ini adalah suatu keputusan yang harus diambil cepat dan tepat oleh kepala negara, karena jika kita memikirkan itu terlalu lama, APBN juga akan semakin terkuras, maka nantinya akan berimbas inflasi yang sangat besar seperti yang terjadi pada tahun 1998 dulu.

Kemudian apakah ada inisiatif lain yang ditawarkan oleh Wakil-wakil rakyat? Hal inipun belum sampai terdengar informasinya ke telinga kita, atau mereka yang duduk di bangku pemerintahan yang konon sebagai wakil rakyat itu buta dengan ide-ide, atau asik menikmati suasana baru gedung megah yang belum lama ini direnovasi. Saya juga tidak mengerti apa pekerjaan mereka di sana.

Saya mengakui bahwa tantangan pemerintah saat ini sangat ketat sekali, apalagi pak SBY sebagai orang nomor satu di negeri ini. Jika boleh dibayangkan, gaji yang besar itu tidak mungkin membuat pak SBY hidup tenang seperti kita yang hanya memikirkan seputar jalan macet dan makan pagi. Ia setiap hari disamping memperbaiki kualitas pendidikan, pembangunan sarana-prasarana pasca bencana, ia juga dituntut harus mengendalikan laju krisis pangan yang menjadi ancaman global saat ini. Hal ini dibuktikan oleh wawancara Ibu Negara Ani Yudoyono yang saya kutif dalam sebuah media nasional beberapa hari yang lalu, “Kami cukup prihatin dengan keputusan ini. Tetapi, saya tahu bahwa pemeritah sudah berusaha untuk berbuat yang terbaik untuk rakyatnya. Tidak benar kalau pemerintah mau menyusahkan rakyatnya, tidak ada satupun pemerintah mulai dari presiden pertama sampai sekarang yang ingin menzalimi rakyatnya. andaikata kenaikan BBM, apa nanti keuntungannya untuk kita pribadi, tidak ada.”

Kedua, kita melihat dari sisi rakyat miskin. Andai posisi kita saat ini adalah rakyat miskin, maka kitalah yang menjadi korban utama dari kenaikan BBM ini. Tentunya ketika sebelum dinaikkan BBM daya beli bisa mencapai 100%, maka untuk saat ini akan menurun menjadi 80% karena melambungnya harga-harga, namun ketika diturunkan program BLT bagi masyarakat miskin, maka tentunya akan membantu untuk mencapai kembali daya beli mereka menjadi sedia kala. Hal ini menurut saya merupakan open close game yang sangat bagus oleh pemerintah, karena dengan adanya BLT berarti mengembalikan daya beli masyarakat menjadi sedia kala ketika BBM itu dinaikkan. Cobalah kita berhitung!

Sementara ocehan-ocehan dari para elit politik yang mengatakan bahwa BLT menjadikan rakyat sebagai pengemis atau peminta-minta, hal itu saya rasa tidak perlu di dengar, karena saat ini kita tidak butuh wejangan-wejangan yang basi yang tidak membangun, yang kita butuhkan saat ini adalah solusi tepat, cepat dan membangun. Sekarang bukan zamannya untuk saling caci-mencaci, tetapi bagaimana agar negara kita ini menjadi baldatun toyyibatun wa robbun ghofur.

Saya sebagai mahasiswa sangat mendukung sekali langkah-langkah pemerintah untuk menaikkan BBM, selama itu menjadi keputusan yang terbaik, hanya saja saya masih meragukan proses pembagian BLT, karena saya takut hal ini akan menjadi ladang baru bagi tikus-tikus berdasi untuk melakukan aksinya di ruang gelap.

LOMBA CERPEN NASIONAL


Badan Ekskutif Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto bekerjasama dengan OBSESI Press Selenggarakan LOMBA CIPTA CERPEN RELIGIUSITAS-CINTA TINGKAT MAHASISWA-PELAJAR SE-INDONESIA

Persyaratan Cerpen yang dilombakan:
(1) Peserta dibatasi emailkan cerpen 1 judul cerpen karya terbaiknya,
sesuai dengan topik umumnya, yakni “Religiusitas-Cinta”;
(2) Cerpen yang diemailkan adalah karya yang belum pernah
dipublikasikan di media massa ataupun dalam bentuk buku;
(3) Diemailkan ke lpmobsesi_stpwt[at]yahoo[dot]com, dan di-CC ke
obsesipress[at]gmail[dot]com ;
(4) Disertakan scan dari Kartu Pelajar atau Kartu Mahasiswa sebagai
identitas;
(5) Biografi penulis maksimal 1 halaman, dan scan foto penulis;
(6) Naskah diterima dari pengiriman email tanggal 22 Oktober - 22
Desember 2008;
(7) Pemenang yang dipilih adalah Juara I, II, dan Juara III, akan
diumumkan pada tanggal 1 Januari 2009, dan penganugerahan hadiah para
juara dan nominator akan dilangsungkan 14 Februari 2009, bersamaan
dengan penganugerahan juara Lomba Esai Mahasiswa Tingkat Nasional
Periode ke-2.

Adapun hadiah yang akan diberikan adalah:
(1) Bagi cerpen Juara I, II, dan III, akan mendapatkan hadiah uang
sebesar =
Juara I - Rp.700.000,
Juara II - Rp.500.000,
Juara III - Rp.300.000 ;

(2) Bagi Juara I, II, dan III, akan mendapatkan Piala Tetap dari Ketua
STAIN Purwokerto;

(3) Bagi Juara I, II, III, dan 27 nominator, maka karya cerpennya akan
dibukukan dan diterbitkan oleh penerbit OBSESI Press dalam bentuk
eksklusif ;

(4) Bagi Juara I, II, III, dan 27 nominator, akan mendapatkan
SERTIFIKAT JUARA atau SERTIFIKAT NOMINATOR ;

(5) Bagi Juara I, II, III akan mendapatkan masing-masing 3 eksemplar
BUKU ANTOLOGI CERPEN “RELIGIOSITAS CINTA” tersebut; dan 27 nominator
akan mendapatkan masing-masing 2 eksemplar ;

(6) Penganugerahan hadiah/buku antologi kepada para juara dan
nominator akan dilangsungkan 14 Februari 2009, bersamaan dengan
penganugerahan juara Lomba Esai Mahasiswa Tingkat Nasional Periode ke-2.

Tim Juri Nasional :
(1) Drs. Ahmadun Yosi Herfanda (Sastrawan, dan Redaktur Sastra Budaya
koran Republika - Jakarta);
(2) Abdul Wachid B.S., S.S., M.Hum. (Sastrawan, Dosen Bahasa dan
Sastra Indonesia, Kritikus Sastra) ;
(3) Heru Kurniawan, S.Pd., M.Hum. (Sastrawan, Dosen Bahasa dan Sastra
Indonesia, Editor) .

Jumat, 28 November 2008

RESENSI NOVEL A DEATH IN VIENNA


Judul Buku : A Death in Vienna

Penulis : Frank Tallis

Penerbit : Qanita

Tahun Terbit : Maret - 2007

Jumlah Halaman : 580



“Itu adalah hari saat terjadinya badai besar. Aku ingat dengan baik karena ayahu – Mendel Liebermann – mengundangku untuk minum kopi di The Imperial. Aku curiga bahwa ia punya maksud tertentu....”


Awal yang sangat memikat untuk gaya penceritaan sebuah karya fiksi. Elegan, multi tafsir dan penuh dengan teka-teki. Bermula dari kalimat inilah kisah A Death in Vienna mengalir bak gondola kecil di sungai yang deras, yang akan membawa pembaca terhanyut jauh ke dalam analisis peristiwa yang tajam, orisinil, dan mencerahkan, hingga sampai ke ujung halaman.

Misteri pembunuhan adalah menjadi garis besar cerita pada novel ini, sebab seorang wanita ditemukan tewas di apartemennya dengan meninggalkan sebuah pesan misterius yang menggambarkan seolah-olah ia sendiri yang melakukan pembunuhan;


Tuhan, ampuni aku atas apa yang telah kulakukan. Di dunia ini memang ada pengetahuan yang terlarang. Ia akan membawaku ke neraka dan tak ada jalan untuk bertobat.


Wanita itu bernama Charlotte Lowestein yang dikenal sebagai seorang mediator. Setiap minggu sekelompok orang datang ke apartemennya untuk melakukan upacara pemanggilan arwah. Ia meninggal dengan luka tembak di dadanya, akan tetapi fakta menunjukkan berbagai keanehan, sebab di dalam kamar tersebut tidak ditemukan sepucuk senjatapun, sementara pintu kamarnya terkunci rapih dari dalam dan tidak ada tanda-tanda orang melarikan diri. Lalu ketika dilakukan otopsi oleh Profesor Mathias, ia tidak menemukan peluru di dalam tubuh Lotte.


Tepat di malam kematian Lotte itulah badai hebat melanda Wina. Kematian itu pun kemudian dikaitkan dengan persekutuan dengan setan oleh teman-teman kelompoknya. Ada kekuatan supranatural yang terlibat dalam kematian itu. Sebab, fakta itu diperkuat lagi dengan ditemukannya sebuah kotak Jepang yang berisi patung Mesir – Dewa Badai - yang juga terkunci dari dalam.


Pihak kepolisian Wina yang dipimpin oleh inspektur Oskar Rheinhardt berusaha memecahkan kasus ini. Meskipun berusaha menggunakan akal sehat dan berdasarkan fakta yang ada, penyelidikan menemui jalan buntu. Akhirnya inspektur Reinhard meminta bantuan Max Liebermann - seorang psikiater - untuk ikut dalam penyelidikan. Liebermann berusaha menganalisa fakta yang ada di lihat dari sisi yang berbeda. Di sini pembaca akan disuguhkan banyak teori psikologi analisis yang berasal dari tokoh psikologi sakral ternama Sigmun Freud.


Setelah penyidikan yang cukup melelahkan ditemukanlah alibi bahwa tersangka kemungkinan adalah tamu-tamu yang terlibat dalam upacara pemanggilan arwah. Namun masalah pembunuhan itu menjadi semakin rumit ketika tukang kunci Uberhorst terbunuh sadis di kamarnya dengan luka menganga. Wajahnya hancur, pipi kirinya melesak ke dalam, dan tulang rahangnya berantakan. Dua peristiwa pembunuhan inilah akan membuat emosi pembaca kembali dipermainkan. Siapa sebenarnya pelaku dari dua motif pembunuhan yang berbeda ini? Apakah dilakukan oleh orang yang sama atau tidak.


Sementara itu Liebermann menghadapi masalah serius di rumah sakit tempatnya bekerja. Sebuah eksperimen sedang diuji coba. Lieberman tidak setuju dengan sesi elektroterapi yang dilakukan oleh rekan sejawatnya dalam pengobatan pasien. Ia lebih memilih pendekatan psikologis dalam pengobatan trauma seseorang. Salah satu pasiennya Amelia Lytgate, mengalami kelumpuhan dan ada kecenderungan mengalami kepribadian ganda. Lieberman melakukan pendekatan lewat metode hipnotis untuk menelusuri penyebab trauma yang dialami pasiennya. Dan Miss Lytgate inilah nantinya yang akan menbatu inspektur Rheinhardt dan Liebermann dalam memecahkan kasus kematian Charlotte Lowenstein.


Melalui berbagai analisa dan penyelidikan yang akurat akhirnya terungkaplah siapa yang membunuh Lotte dan Uberhorst. Di sini penulis sangat piawai meletakkan deretan analisa dan penyelesaian dengan tidak terburu-buru.


Novel ini juga menceritakan sekelumit tentang kisah cinta Liebermann, yakni tentang hubungannya dengan Clara yang disuguhkan tidak terlalu berlebihan. Masalah keraguannya untuk meneruskan pertunangannya dengan Clara ke jenjang selanjutnya adalah menjadi topik utama pada bab ini.


Novel karya Frank Tallis ini dibagi ke dalam 6 bagian. Alur cerita agak sedikit lamban, namun bab-babnya yang pendek akan mampu membuat pembacanya tidak meninggalkan buku ini, karena antara bab yang satu dengan yang lainnya memiliki keterkaitan alur yang erat. Hanya saja pembaca akan dibuat tertantang untuk mengingat banyaknya tokoh dalam karya ini, seperti Marfled Brugel, Natalie Heck, Heinrich, Juno Horderlin, Zaborsky, Otto Braun dan masih banyak lagi tokoh lain yang tidak kalah penting dalam membangun karya setebal ini.


Adapun yang paling mengasikkan ialah kedua tokoh ini akan mengajak kita menjelajahi kota Wina - Austria, kota eksotik yang menjadi permata di Eropa tengah (biarpun secara politis lebih sering dikelompokan ke Eropa barat, tapi secara geografis lebih tepat di Eropa tengah). Kota yang kaya akan seni, filsafat, arkeologi, musik dan sains. Aroma abad pertengahan itu sangat terasa sekali dengan kekhasan budaya, seperti kendaraan omni bus, kereta kuda dan gedung-gedung peninggalan raja-raja terdahulu. Pembaca juga akan dihidangkan oleh berbagai nyanyian musik klasik dari banyak bab seperti lagu Winterreise karya Schubert dengan iringan musik piano yang dimainkan oleh Liebermann yang piawai.


Tidak lupa pula Frank Tallis membumbuhi novelnya ini dengan pesan-pesan moral yang sangat menyentuh. Pembaca tentu akan menjumpai sebuah pesan bahwa ‘Kecantikan fisik dapat dengan mudah melemahkan moral, karena orang yang dianggap cantik atau tampan biasanya mudah tergiur oleh dosa kesombongan dan takabbur.


Oleh karena itu, jika anda adalah seorang dokter bedah, psikiater, polisi, penyelidik, sejarawan, arkeolog, dan masyarakat pencinta kisah-kisah menarik, novel ini adalah cocok sebagai perisai mimpi sekaligus kunci pencerahan ide-ide brilian dari seorang Lieberman, Rheinhardt dan Miss Lydget yang dengan kegigihannya mereka mampu mengungkapkan dua misteri pembunuhan yang berbau mistik itu.


Badai besar telah menguji ketajaman analisis dan kesabaran Liebermann. Dan cerita inipun ditutup oleh tulisan Liebermann pada secarik kertas;


Itu adalah hari saat terjadinya badai besar. Aku ingat dengan baik karena ayahu – Mendel Liebermann – mengundangku untuk minum kopi di The Imperial. Aku curiga bahwa ia punya maksud tertentu....

Selasa, 18 November 2008

SAJAK MUSIM HUJAN


TEROMPET SENJA

Terompet telah berbunyi

Menandakan hari sudah petang

Kembalilah anak-anak ayam!

Ke dalam sangkar

Menciptakan mimpi.

Bernyanyilah sebelum tidur

Agar semut-semut ikut mendengkur

Di atas biji

Dari sisa-sisa nasi.

Jangan berteriak

Karena bapakmu belum kembali

Ia sedang memanah

Di pohon jambu seberang kali.

Jangan keluar

Sebelum fajar

Karena anak-anak musang

Masih mencelang.

Tidurlah yang lelap

Sebelum mati perkara hidup

Tiada lagi yang hendak dicari

Kapal Nuh sudah kembali.

Nov 2008



MUSIM HUJAN

Sekarang musim hujan

Bunga dan dedaunan hijau bermekaran

Akhirilah seluruh pertengkaran!

Entah kapan musim panas

Setelah padi mulai bertunas

Langit sekajang layu

Seperti burung perindu

Yang termangu dalam sendu.

Biarlah hujan berlalu

Karena masa depan masih menunggu

Tak perlu menatap jejak yang hilang

Karena yang ada belum terbilang.

Tak ada kata untuk takut

Karena dingin dalam selimut

Kecuali engkau pengecut

Tak berani maju

Waktu tergerus lalu.

Istirahatlah minum kopi

Di teras ibu pertiwi

Sebelum kambing betina beranak

Engkau bergegaslah beranjak.

Nov 2008



ANGIN TOPAN

Kau rangkai ribuan jurus

Untuk menjadi sebuah arus

Di sekitar rumahku

Tadi subuh

Kau hantam desaku

Dengan godam batumu

Lalu berantakan

Menjadi ribuan makam.

Aku terluka

Mereka binasa

Engkau begitu raksasa

Meski tak kentara.

Nov 2008



RENTA

Di sinilah kita

Suka bermain kata

Kadang berlebih

Kadang menyedih.

Aku tak pernah memberi

Di antara ribuan peri

Aku tak hanya diam

Di balik kemaluan malam.

Tanganku menang

Suka bermain pedang

Kini tinggallah batu

Tak sanggup lagi menaku.

Dulu kau menangis

Ketika ku ringis

Berbagi upah kelereng

Hasil curian bedeng.

Aku tak menyangka

Waktu demikian singkat

Tinggal sesaat

Di antara ujung janggut.

Nov 2008



BEBAS

Berjalanlah semaumu

Di daratan padang luas.

Berlayarlah sesukamu

Di hamparan laut lepas.

Terbanglah sekehendakmu

Di kibaran angin bebas.

Hiduplah sekepalamu

Jika engkau tak mengenal batas.

Nov 2008



MANTRA PENAKLUK

A ku ke kar

A ku ke jar

A ku ke pung

A ku ke kap

Nov 2008



SEPERTI AIR

Jadilah seperti air

Mengalir ke ujung hilir

Tak ada ranjau paku

Apalagi selintang belenggu.

15 Nov 2008



MERAH PUTIH

Merahku pengecut

Putihnya telah ternodai.

Agust 2008



LUKA SENJA

Senja menghilang

Di balik tubuh semut kecil

Yang bertengger di besi tua.

Ia mengaduh mengerang

Pada pinggul yang terluka

Dan kemudian pergi.

Jun 2008